Advokat Tonin Singarimbun, SH Pastikan Kesaksian Iwan alias HK dkk adalah Keterangan palsu

 

Jakarta. Ketua tim kuasa hukum Kivlan Zen, Advokat Ir. Tonin Tachta Singarimbun SH menyatakan kran hukum sudah berjalan di Kepolisian berkenaan dengan aliran dana, kepemilikan senjata api dan rencana pembunuhan.

Tonin menjelaskan, kicauan Helmi Kurniawan (HK) alias Iwan yang mengaku kepada Kivlan Zen sebagai pecatan TNI AD dari pasukan infantri 501-Surabaya/Jawa Timur masih akan dicek kebenarannya.

“Iya dia awalnya mengaku pangkat Mayor kepada beberapa orang dan seterusnya dengan merekrut Eka sekitar Januari 2018 yang dipecat dari kesatuannya di Sukabumi karena berkelahi dengan Polisi. “ jelas Tonin di Jakarta, Selasa (18/6/2019).

Tonin juga menyebut perkenalan Eka dan Iwan dimulai dari seorang wartawan di seputaran pasar Cibinong.

Dikatakan Tonin, dengan alih-alih adanya rencana pembunuhan oleh Wiranto, Luhut Binsar Panjaitan, Budi Gunawan, Gorece Mere dan 3 (tiga) orang dari kesatuan elite Polisi kepada Kivlan Zen, maka Eka dapat dipekerjakan sebagai Pengawal dan Sopir yang cakap membela dari rencana pembunuhan tersebut.

“Kami sudah mengirimkan tim ke daerah cibinong untuk mengecek kebenaran perkenalan Eka dan Iwan yang dapat disimpulkan nanti. “Ucapnya.

Tonin juga mengurai bahwa Eka melalui rekannya meminta dicarikan pekerjaan apa saja yang penting halal, karena menurut pengakuan kliennya (Kivlan Zen.red), setelah berhenti dari TNI AD, mereka sudah tidak mempunyai pekerjaan lagi. Perisitwa itu sekitar November 2018 dan Januari 2019, hingga akhirnya Eka langsung dapat job.

 

“Sekitar Februari 2019, Iwan menggantikan posisi Eka dengan Azwarmy (eks prajurit TNI di Aceh) yang masih bekerja di Bandara dan bertempat tinggal di Cimanggis. Eka diakui tidak dapat bekerja full time sebagai sopir dan pengawal Kivlan dari ancaman pembunuhan yang dikatakan Helmi Kurniawan (HK) als. Iwan pada saat itu.

“HK alias Iwan kan ngomong ke pak Kivlan kalau pak Kivlan mau dibunuh oleh para jenderal, mangkanya pak Kivlan perlu pengawalan full. “Ucap Tonin.

Dikabarkan sebelumnya bahwa Helmi Kurniawan (HK) alias Iwan tinggal di dua tempat, yakni istri keduanya di kawasan elite Sentul, dan perumahan elite di Cibinong rumah istri pertamanya.

Kembali kepersoalan hukum dikatakan Tonin, Helmi Kurniawan als Iwan selanjutnya menyiapkan tiga (3) orang yang berdomisili sekitar dekat di kediaman Kivlan Zen di kawasan Jakarta Utara. menurut pengakuan Iwan, guna setiap saat siap melakukan pengawalan dalam menghadapi alih-alih Iwan tentang adanya rencana pembunuhan terhadap diri Kivlan Zen.

Tonin mengutarakan ucapan kliennya (Kivlan Zen) tidak ingat kapan ucapan Iwan alias Helmi Kurniawan (HK) yang mengaku telah mengeksekusi satu (1) orang dari tiga (3) kesatuan elite kepolisian yang dimaksud.

“Kata Iwan begini ke pak Kivlan, ia pernah bicara soal mengeksekusi yang dilakukan oleh rekannya di salah satu kawasan pemakaman di Depok, ini terkait dengan penembakan pengawal Prabowo Subianto di parkiran Hibutan kawasan Bogor. “Ulas Tonin.

Alih-alih dan kicauan Helmi Kurniawan (HK) alias Iwan tersebut menjadikan Kivlan terpedaya, sehingga menerima orang-orang yang dipekerjakan tersebut.

Lanjut Tonin, hingga sampailah pada perisitiwa dimana Azwarmy mengenalkan yang lainnya kepada Kivlan untuk menggalang masa dalam keperluan demo di bulan Mei 2019.

Penggalangan massa tersebut saat itu belum disebutkan waktu, tempat dan kegiatannya, apakah hari buruh, kesaktian pancasila atau anti PKI.

“Kembali pak Kivlan Zen terperdaya dengan Irfan yang dapat menunjukkan simpul/korlapnya untuk penggalangan masa dalam demo. Saat itu Irfan menyatakan juga Iwan itu meminta masa darinya dalam pertemuan di kawasan Kebon Jeruk/Simpruk daerah simpulnya tersebut. “Ungkap Tonin.

 

Dijelaskan Tonin, sekitar April 2019 dengan difasilitasi Azwarmy, maka Kivlan Zen bertemu lagi dengan Irfan di parkiran Mesjid Pondok Indah setelah Sholat. Pembicaraan mereka sekitar beberapa menit di mobil dengan terlebih dahulu melepaskan HP keduanya kepada Army.

“Saat itu memang benar pak Kivlan Zen memberikan uang Rp. 5 juta yang diambil dari ATM dalam salah satu minimarket sebelah Kawasan Mesjid Pondok Indah. Uang tersebut bukan dalam konotasi jelek, itu sebagai operasional penggalangan massa untuk aksi, bukan untuk senjata api ilegal atau uang muka rencana pembunuhan. Jangan disalah artikan ya. “Beber Tonin.

lebih rinci dipaparkan Tonin, bukan hanya Irfan, Helmi Kurniawan (HK) als Iwan yang memiliki mobil merah dengan sopir Tahjudin als Udin pun pernah diberikan Rp. 5 juta oleh Kivlan Zen. Pemberian uang itu dalam rangka pemasangan spanduk dan pengumpulan massa 30 orang di seputaran Monas dalam rangka democracy polices yang dijelaskan Pak Kivlan sebagai anti kekuasaan polisi.

“Dengan keberhasilan tersebut, maka diorder lagi untuk pengumpulan masa dalam rangka supersemar dan Iwan menyanggupi 1.000 orang di tempat demo didepan Istana kawasan Monas, kemudian pada tanggal 7 Maret 2019 diserahkan lagi uang sebesar $Sing 15.000 di kawasan kelapa gading disalah satu restoran masakan padang yang di atasnya ada money changer sehingga Iwan dapat menukarnya secara langsung senilai Rp. 155 juta dan menyerahkan kelebihannya Rp. 5 juta ke Pak Kivlan. “Papar Tonin.

Tonin juga menyatakan bahwa Helmi Kurniawan (HK) als Iwan wanprestasi dipenyelenggaraan demo supersemar. Saat itu Iwan beralasan sedang mendampingi Joko dalam suatu kegiatan.

“Si HK alias Iwan saat demo supersemar tidak hadir, ia hanya menghubungi pak Kivlan lewat selullar dengan alasan sedang mendampingi Joko, entah siapa yang dimaksud Joko itu oleh Iwan. “jelas Tonin.

Setelah aksi demo Supersemar itu, Tonin juga menyebut HK alias Iwan tidak ada komunikasi dengan Kivlan Zen, sehingga Kivlan memerintahkan Army dan Irfan mencari Iwan alias HK. Akibat wanprestasi Iwan itu, Kivlan hanya menggunakan Irfan untuk menyiapkan dan menggalang demo Mei 2019.

Mengulik soal senjata pemburu atau senjata pembunuh babi hutan yang diorder Iwan sekitar Januari 2019 dibenarkan kuasa hukum Kivlan Zen.

“Benar itu, adanya keperluan senjata pemburu/pembunuh babi hutan dan diorder ke Iwan sekitar Januari 2019 yang memiliki izin perbakin dan selain itu tidak ada order senjata lainnya, bahkan senjata pemburu babi itu tidak pernah terealisasi. “Ulas Tonin.

Awalnya, Kivlan Zen bertemu Helmi Kurniawan (HK) als Iwan dirumahnya, pada waktu itu Iwan membawa senjata yang diorder untuk berburu babi hutan, namun senjata yang dibawa Iwan tidak sesuai karena tidak ada teleskop, tidak ada popor, sehingga ditolak karena pistor itu untuk berburu tikus.

“Narasi yang dimuntahkan Iwan alias HK melalui siran pers Polri bersama Wiranto saat itu dan dibuat seolah-olah ada rencana pembunuhan 4 jenderal dan 1 orang pemilik lembaga survei, bahkan dikaitkan dengan Habil Mantiri yang disangakakan penyandang dana untuk melakukan dan pembunuhan berencana terhadap Wiranto dkk., adalah skenario keji. “Tegas Tonin.

Disebutkan Tonin, $ Sing 4.000 sekitar Rp. 50 juta untuk demo bulan Mei yang belum ditentukan pelaksanaanya itu, sehingga Pak Kivlan terpaksa meminta tolong ke Irfan menggalang masa. Hal itu dikarenakan Helmi Kurniawan (HK) als Iwan yang telah merima Rp. 50 juta tidak dapat ditemukan lagi keberadaanya.

Tonin pastikan kesaksian Iwan alias HK dkk adalah keterangan palsu. Testimoni Helmi Kurniawan (HK) als Iwan, Tahjudin dan Irfan harus diuji lagi kebenarannya.

“Penyidik Kepolisian itu profesional, sehingga tidak akan mencuri start sebelum P-21. Ini makanya akan menjadi persoalan hukum yang lain mengenai testimoni tersebut. “Ujarnya.

Berkenaan dengan adanya ketidak-cocokan dalam kasus Kivlan Zen, Advokat Ir. Tonin Tachta Singarimbun SH telah mengajukan surat yang juga ditanda-tangani Kivlan dan ditujukan kepada Jend Rymizard, Jend Wiranto, Pangkostrad, Kastaf Kostarad dan Danjen Kopasus.

“Tdak sampai 4 hari surat itu masuk telah membuahkan kalimat dan kebijakan menyejukan. Kapolri yang terlebih dahulu menyatakan Kivlan Zen tidak terkait dengan 21-22 Mei, dengan demikian sangkaan senjata api dan rencana pembunuhan akibat kicauan bohong Helmi Kurniawan (HK) als Iwan, Irfan dan Tahjudin akibat di konfrontir oleh Penyidik Jatanras Unit 3 sore ini terhadap penetapan tersangka Habil Mantiri. “Beber Tonin.

Tonin juga tidak sependapat laporan polisi nomor LP/439/V/2019/PMJ/Ditreskrimum tanggal 21 Mei 2019 berdasarkan Laporan Ipda Dimas Mada, SH.,MH., yang menyebut telah adanya penyitaan barang bukti berupa senjata yang tidak berizin.

“Laporan Ipda Dimas kami nilai tidak sesuai dengan fakta, dan hanya menyimpulkan berdasarkan kicauan Iwan alias HK, irfan dan Tahjudin, janganlah mempermaikan hukum untuk pendzoliman dikemudian hari. “Ringkas Tonin.

 

Tonin juga meminta penyelesaian hukum yang dimaksud untuk diketahui Kemhan Ryamizard Ryacudu dan Menko Polhukham Wiranto bahwa kicauan Iwan dkk yang menuduh Kivlan Zen memiliki senjata api ilegal, rencana pembunuhan 4 jenderal dan 1 orang pemilik lembaga survei serta adanya aliran dana dari Habil untuk hal-hal yang dimaksudkan Iwan dkk, adalah mutlak tidak benar.

“Setelah konfrontasi permasalahan tuduhan terhadap Kivlan Zen, maka Polda Metro Jakarta sepatutnya melepaskan klien kami dari penahanan selama penyidikan yang akan berakhir tanggal 19 Juni 2019, dan tentunya ada tahapan melepaskan dari Status Tersangka, kami menyerahkan sepenuhnya kepada Penyidik memberikan kebijakannya. “Tutup Tonin.(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *