Amnesti Kasus Ibu Baiq Nuril

 

Hartadi Hendra Lesmana,SH,MH
Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Hukum dan Advokasi Indonesia ( LKHAI)

 

 

Banyak isu hukum yang dapat ditarik atas kasus Ibu Baiq Nuril diantaranya apakah mal-administrasi terkait putusan PK-nya atau tepatkah pemberian amnesti untuk Nuril.

Penulis mencoba fokus kepada isu yang terakhir (tentang Amnesti). Kasus yang sedang hangat beberapa hari ini adalah putusan PK MA atas permohonan Baiq Nuril yang dinyatakan ditolak. MA melalui putusan nomor : 83 PK/Pid.Sus/2019 menyatakan BN bersalah atas 2 hal yaitu : ilegal recording ( karena merekam percakapan mesum kepala sekolah tempat ia bekerja) dan menyebarkan ke publik.

 

Lantas publik sangat bersimpat kepada Nuril – hal ini sama spt kasus Prita, kemudian seluruh lapisan masyarakat bahkan Menkum HAM mendesak agar Presiden memberikan amnesti.

Baiq Nuril
Menurut penulis, sebaiknya Presiden tidak “turut baper” dengan menggunakan kewenangannya atas putusan MA dengan memberikan amnesti. Apalagi jika Presiden memberikan amnesti tanpa meminta pertimbangan dari DPR (vide Ps. 14 UUD 1945 ayat (2)).

Sebaiknya Pemerintah lebih memberikan dukungan kepada Nuril mengajukan upaya hukum Peninjauan Kembali untuk kedua kalinya. Bukankah putusan MK telah membatalkan Pasal 268 ayat (3) KUHAP yang membatasi pengajuan PK hanya satu kali yang dimohonkan mantan ketua KPK Antasari Azhar beserta istri dan anaknya ?.

Jadi menurut hemat penulis, sebaiknya maksimalkan upaya hukum yang ada dulu agar wajah hukum kita tetap dan Pemerintah punya wibawa, bagaimanapun putusan hakim tetap harus dihormati bukan ?.

Penulis sangat yakin bhw putusan PK ke-2 akan berbeda – bukankah syarat dapat ditempuhnya upaya hukum luar biasa adalah syarat yang sangat mendasar terkait kebenaran dan keadilan dalam proses peradilan pidana. – Judge made law –

 

Penulis : Hartadi Hendra Lesmana for LKHAI.

Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Hukum dan Advokasi Indonesia (LKHAI)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *