Both PT Dua Putera Perkasa Mencuri Perhatian Pengunjung Pameran Food & Hotel Indonesia (FHI) 2019

 

President Director PT Dua Putera Perkasa, Suharjito, SE.

 

Jakarta. Stand Both PT Dua Putera Perkasa (DPP) berhasil mencuri perhatian pengunjung pameran Food & Hotel Indonesia (FHI) 2019, yang berlangsung di JI Expo Kemayoran, Jakarta Pusat. Sejak dibuka kemarin, booth DPP yang menempati Hall C3, Food Hall Indonesia, terus dipadati pengunjung.

President Director PT Dua Putera Perkasa, Suharjito, SE. mengatakan, pihaknya sudah tiga tahun ini selalu mengikuti event FHI sejak mulai diadakan lima tahun lalu. Di event FHI kelima ini, pihaknya memboyong sejumlah produk andalan untuk diperkenalkan kepada costumer-costumer baru. Langkah ini sebagai salah satu upaya perusahaan untuk menggenjot penjualan. Selain melalui pameran, pihaknya juga rutin melakukan kunjungan pasar.

 

President Director PT Dua Putera Perkasa, Suharjito, SE.

 

“Kita tiga tahun ini selalu ikut pameran di sini. Kita mengenalkan produk-produk kita ke customer baru, agar supaya bisa mengejar penjualan yang setiap tahun ditargetkan naik 10-15%,” jelas Suharjito saat ditemui Majalah CEO di lokasi pameran, Kamis (25/7/2019).

Menurut dia, peluang pasar produk mentah dan olahan masih cukup besar di Indonesia. Ia mencontohkan kebutuhan daging nasional saja rata-rata 2,5 kg per kapita per tahun. “Kalau dikalikan 250 juta jumlah penduduk saja sudah berapa. Sekarang 10 persen saja belun ada. Artinya, masih sangat luas pasarnya,” tandasnya.

Pameran Food & Hotel Indonesia (FHI) 2019 resmi dibuka sejak Rabu (24/7) dan akan berlangsung hingga Sabtu (27/7). FHI 2019 menghubungkan 1.300 produsen dan pemilik bisnis dari 41 negara. “Kita hadir di sini selama pameran berlangsung,” ujarnya.

Zuhdi#MAJALAHCEOINDONESIA:

 

President Direktur PT Dua Putra Perkasa Pratama (DPPP) Suharjito SE

 

SEJARAH PERKEMBANGAN PT DUA PUTRA PERKASA PRATAMA

 

Belasan tahun berkiprah dalam industri pengolahan bukanlah hal yang mudah bagi Suharjito, Presiden Direktur PT Dua Putra Perkasa yang juga lulusan Ekonomi Akuntansi dari salah satu universitas di Semarang ini. Banyak asam manis yang telah dirasakannya kala memulai usahanya lebih dari 12 tahun silam.

 

“Dulunya PT. Dua Putra Perkasa awalnya bergerak melakukan perdagangan dagingsapi. “Saat krisis moneter 1998 saya sempat memotong sapi dari Boyolali untuk dijual kemudian di Jakarta,” jelasnya.

Ia mengaku sempat mengimpor daging setelah kondisi perekonomian membaik. “Saat itu saya telah membuat pabrik bakso. Perkembangan berikutnya, saya melihat peluang yang sama besar antara daging, unggas,dan ikan. Akhirnya saya putuskan untuk membuat pengolahan ikan,” terangnya.

Sebelum melakoni usaha olahan, pada 1990 ia datang dari Jepara ke Jakarta sebagai kontraktor berkembang hingga menjadi developer. Nampaknya terpaan krisis moneter membuatnya mengubah haluan 180o menjadi pengusaha pangan. Jumlah sapi yang dipotongnya kala itu mencapai 200 ekor per hari guna mencukupi pasar Ibukota.

Setelah ia kembangkan ke usaha olahan ikan, kini ia memiliki lini produk bakso, kornet, dan olahan ikan lainnya. “Produk olahan ikan yang paling diminati sejauh ini oleh konsumen adalah bakso ikan,” ujarnya.

Untuk olahan ikan ia pusatkan di pabriknya yang berada di Pondok Gede sedang untuk olahan daging dan unggas ia fokuskan di Cipendawa. Kapasitas pabrik yang hanya mampu memproduksi 15 ton olahan per hari dirasa kurang oleh bapak tiga anak ini. Melihat potensi pasar yang masih luas, ia pun menangkap peluang dengan mengambangkan pabriknya agar mampu berproduksi lima kali lebih banyak di 2016 ini.

Selain pasar domestik, perusahaan yang dipunggawainya menyasar pasar Taiwan dengan produk fillet nila, dengan pasokan bahan baku dari Medan dan Sulawesi. Ikan tenggiri pun tak luput dari pengamatannya, melalui sebuah pameran yang dihelat di Vietnam 2015 lalu ia memperoleh konsumen untuk produk tersebut di Vietnam. Sementara patin ia maksimalkan untuk kebutuhan lokal yang masih luas untuk dipenuhi.

Usaha ekspor yang digelutinya memang belum begitu lama, baru berjalan 3 tahun semenjak 2013 lalu. Produk yang dibesutnya memang memiliki pangsa pasar kelas menengah dan bawah meski tidak meninggalkan beberapa produk untuk pasar kelas atas. Ia memisalkan untuk produk bakso ikan di segmen pasar menengah dalam satu harinya bisa mencapai 4 – 5 ton produksi. Pasar domestik yang disasar mencakup Sumatera dan Jabodetabek. Merek yang digunakan oleh Suharjito adalah “Kings Food”.

 

President Director PT Dua Putera Perkasa, Suharjito, SE.

 

Miliki Kapal

Guna mendukung program Kementerian Kelautan dan Perikanan, semenjak dilarangnya kapal penangkapan ikan asing dan eks asing berlayar di perairan Indonesia, Suharjito pun merespon dengan membuat 10 buah kapal penangkapan ikan. Kapal yang telah selesai menurut Suharjito sebanyak 5 buah sedang yang telah mengantongi izin untuk berlayar dan menangkap ikan baru 2 buah saja. Kapal yang dimilikinya memiliki bobot masing-masing 100 GT.

Kapal-kapal tersebut diperuntukkan untuk menangkap ikan guna mencukupi permintaan akan bahan baku olahan ikan dan ikan segar para pedagang yang ada di beberapa pasar yang telah menjadi langganannya. Dia tidak ingin melakukan perdagangan ikan hanya saat-saat tertentu saja, namun perluasan pasar menjadi salah satu tujuannya. “Tentu agar ada kepastian pasokan, karena dari nelayan tidak bisa diukur,” ujarnya.

Pria yang memiliki hobi bekerja ini menilai perizinan yang ada di Indonesia sebagai hambatan utama dalam mengembangkan usaha. Dari 5 kapal yang telah jadi baru 2 saja yang mengantongi izin, padahal permohonan telah diajukan jauh-jauh hari sebelumnya.

Pengurusan izin budidaya tambak miliknya pun mengalami proses yang panjang dalam memperoleh 9 izin yang harus dipenuhi. “Perlu waktu satu tahun untuk mendapatkan izin tambak di Bengkulu,” keluhnya. Ia berharap agar kementrian terkait dapat memperbaiki sektor perizinan agar industri dalam negeri dapat berkembang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *