Forum Komunikasi Putra Putri Golongan Karya Mengelar Diskusi Kebangsaan dan Politik

 

Diskusi bertema “Misi Golkar untuk Indonesia Maju, Adil dan Makmur

 

Jakarta.Forum Komunikasi Putra Putri Golongan Karya mengelar diskusi kebangsaan dan politik dalam rangka menanggapi situasi terkini yang khusus dinamika yang tengah menghangat dalam partai Golkar.

Acara  berlangsung di Bilangan Cikini Jakarta Pusat. Selain dihadiri kalangan internal kader kader muda Golkar, diskusi ini pun terbuka buat kangan masyrakat umum yang tertarik dengan isu isu politik maupun demokratisasi.

Dengar menghadirkan beberapa pemateri dari kalangan Golkar sendiri, seperti Yoris Raweyai, Andi Rukman, Rudy Darmawanto, serta peneliti politik dari Indobarometer M Qodari.

Politisi senior Partai Golkar (PG) Yorrys Raweyai menilai partainya kehilangan dukungan dari kekuatan-kekuatan utama yang ada di masa lalu, terutama zaman Orde Baru. Kehilangan dukungan itu menjadi satu penyebab suara PG terus turun dari pemilu ke pemilu.

“Dulu kita punya ABG (ABRI, Birokrasi, dan Golkar, Red). Sekarang mana, hilang,” kata Yorrys dalam diskusi bertema “Misi Golkar untuk Indonesia Maju, Adil dan Makmur, Rabu (7/8/2019).

Ia menjelaskan kondisi ini terjadi sejak zaman reformasi 1998. Hal itu tidak terlepas dari momen reformasi yang ingin menghilangkan Golkar dari peta politik Indonesia karena kebencian terhadap rezim Orde Baru.

Menurutnya, kekuatan-kekuatan lama PG tersebut hendaknya bisa digandeng lagi. Saat ini memang ada purnawirawan TNI dan Polri yang bergabung di PG tetapi jumlahnya sangat sedikit. Ke depan, perlu dirangkul lebih banyak karena PG sendiri didirikan oleh militer melalui Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar).

Di sisi lain, saat ini ada banyak organisasi Islam yang didirikan PG. Sayangnya, kehadiran ormas-ormas itu tidak diberdayakan secara efektif oleh pimpinan PG. Akibatnya, setiap pemilu, PG tidak mendapatkan suara signifikan dari kaum agama. Banyak pemilih lari ke partai agama. Padahal PG dari dulu sudah punya infrastruktur agama yang bisa menggarap suara kaum agama.

“Kita perlu figur yang menyatukan dan memberdayakan ini semua,” tutup Yorrys.
[8/8 02.59] Zuhdi#MAJALAHCEOINDONESIA:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *