Ada Kepentingan Asing dalam Pemindahan Ibu kota dan Kerusuhan Papua

Pengamat Militer, Wibisono,SH,MH

Jakarta, Wacana pemindahan ibu kota kekalimantan sampai saat ini masih menyisakan banyak sekali pertanyaan dari publik- masyarakat, karena dinilai sarat kepentingan asing terutama dari negara China, peran China sangat strategis lewat proyek OBOR (One Belt One Road) sebagai pintu masuk China untuk menancapkan hegemoni-nya lebih dalam di kawasan Asia.

Menurut pengamat militer Wibisono,SH,MH menyatakan ke awak media di jakarta (6/10/2019) Kalimantan secara geografis sangat dekat dari China, dan juga secara demografis (data kependudukan) komposisi warga keturunan china di Kalimantan cukup dominan dan kuat. Jadi Kalimantan memang sangat strategis buat China dan sangat penting untuk dikuasai.

Lanjut wibi, Kondisi Ibu kota adalah ‘centre of gravity’ sebuah negara. Didalam konsep peperangan militer, ibu kota adalah simbol penaklukan dari sebuah negara. Apabila ibu kota negara berhasil direbut dan ditaklukan, itu berarti akan sama dengan keberhasilan menaklukan dan menguasai negara tersebut, seharusnya para elite negeri ini berpikir serius tentang hal ini, selayaknya mereka mengedepankan pola pikir yang cerdas dan komprehensif untuk masa depan bangsa ini, tidak berpikir pola dagang dan kepentingan sesaat.

Sedangkan Ibukota Jakarta yang memiliki nilai sejarah kota yang penting dalam perjuangan kemerdekaan, memang seharusnya status ibukota dipertahankan, Jakarta yang begitu padat dan mengakar secara geokultural dan geografis (berada pada lingkar dalam pertahanan negara). Tentu akan sulit menembus dan menaklukan Jakarta yang begitu besar dan sudah berurat berakar dikuasai banyak negara (tidak saja Indonesia) lainnya berdasarkan kepentingannya masing-masing.

Proyek “new jakarta 2025′ yang di rancang jokowi-Ahok saat menjadi gubernur DKI saat itu, adalah skenario ingin menjadikan jakarta sebagai kota dagang dan bisnis seperti singapura dan Hongkong, terbukti dengan adanya dua Proyek reklamasi Jakarta dan Meikarta.

“Agenda penandatanganan Mou 23 proyek OBOR antara RI- China pada bulan april 2019 di Beijing china yang lalu, semakin membuktikan pihak China ingin mempercepat agenda pemindahan Ibukota Indonesia ke Kalimantan, tujuannya Kalau ibukota dipindah, maka Jakarta akan lumpuh secara ekonomi untuk sementara, kekhususan sebagai daerah ibu kotapun akan dicabut sampai ke akar akarnya. Semua kendali negara dipindahkan ke tempat ibukota baru yaitu di Kalimantan,” ulas Wibi.

Lanjutnya, apabila ibu kota baru sudah berdiri dan berjalan, maka secara otomatis ‘remote control’ negara Indonesia yang selama ini berada di Jakarta akan berpindah tangan ke Kalimantan. Dan ini sama artinya, semua kendali negara kita akan berpindah tangan ke Kalimantan. Secara paralel, seiring proses pembangunan ibu kota ini berjalan, China dengan mudah akan memobilisasi rakyatnya untuk masuk dan migrasi ke Kalimantan,China pun sudah menawarkan pembangunan ibu kota ini dengan dana mereka dari unsur swasta.

Kemudian China akan menjadi mayoritas dan menguasai mutlak Kalimantan secara penuh mulai dari fisik ekonomi, politik, dan komposisi jumlah penduduk seperti sejarah berdirinya Singapore dengan menyingkirkan kaum melayu.

Apa ada hubungan wacana pemindahan ibu kota dengan Peristiwa kerusuhan di Papua?

Saya menilai, Ada proxy negara asing dalam kerusuhan papua terutama kalo dikaitkan dengan pemindahan ibu kota ke kalimantan, pertama, ada kepentingan china, yaitu Kalimantan akan menjadi pintu masuk program ‘OBOR’ China, sedangkan kedua, ada kepentingan AS dan sekutunya, yaitu Papua adalah pintu masuk program TPP (Trans Pasific Partnership) AS dan aliansinya untuk membendung hegemoni China di Asia-Pasific.

“Papua sejak masa perang dunia pertama dan kedua pun sudah memiliki arti penting bagi AS dan sekutunya.”, ujar Wibi.

Bahkan juga, secara kebijakan pertahanan, AS sudah menjalankan konsep US Indopacom, yaitu membentuk border aliansi segitiga India-Australia-Jepang untuk menghadapi China.

Perpindahan ibu kota ke Kalimantan ini sangat berdampak besar bagi masa depan Indonesia diantara jepitan dua kekuatan besar (raksasa dunia). Perpindahan ibu kota ke Kalimantan adalah simbol kemenangan China atas AS dalam merebut dan menguasai Negara Indonesia sepenuhnya.

“Indonesia akan lepas dari kontrol dan hegemoni AS. Wajah Indonesia akan berganti menjadi Negara Indochina tanpa kita sadari, Indonesia yang selama ini terkenal sebagai ‘American Boy’ hanya tinggal sejarah dan cerita lama.”, ungkap wibi.

Kerusuhan di Papua dinilai ada campur tangan pihak asing, ini juga terbukti dengan dimainkan skenario tandingan rusuh Papua untuk memecah konsentrasi, menjegal, rencana perpindahan ibu kota ke Kalimantan atau juga akan memutilasi Papua dari Indonesia dengan ancaman Papua merdeka, dan menjadi milik AS sebagai basis dan pintu masuk hegemoninya di kawasan Asia-Pasific. Karena pasti AS tidak akan rela ‘ladang’ suburnya selama ini akan diambil alih China. Karena sumber kekayaan alam Papua yang melimpah, serta letak grografis Papua yang tepat berada ditengah kawasan yang menghubungkan AS dengan Asia-Pasific-Australia.

“Kita harus waspada menghadapi manuver propaganda rusuh Papua dan Papua Barat yang begitu massive dan terstruktur ini. Makanya jangan heran, aparat khususnya Polri, serta Istana seperti gagap menghadapi situasi ini. Bayangkan hanya dalam hitungan jam, rusuh anarkisme Papua begitu cepat meluas, massive bahkan sampai ke depan Istana dan Mabesad TNI mengibarkan bendera bintang kejora menuntut merdeka secara terbuka.

Padahal kalau kita lihat antara perbandingan kekuatan TNI-Polri dengan perusuh Papua tidak sebanding, Namun yang terjadi sebaliknya. Korban nyawa dan pembantaianpun sudah merebak terjadi di Papua, Sorong, Manokrawi, Fak Fak, Wamena, Jayapura semua membara serentak bergerak menuntut merdeka,” ulas Wibi.

“Anehnya lagi. Sudah jelas rusuh ini begitu radikal, anarkis, dan tuntutannya merdeka, Menkopolhukam Wiranto yang dulu juga menjabat Panglima ABRI ketika rusuh Mei 1998, meminta aparat persuasif tanpa senjata. Apa yang terjadi kemudian, aparat tak bersenjata menghadapi perusuh pakai senjata ya habis dibantai dengan parang, panah dan tombak,akhirnya banyak korban pembantaian di wamena yang jauh dari rasa perikemanusiaan,ini jelas ada pelanggaran HAM berat disana,” terang Wibi.

Jadi aneh! kalau penanganan rusuh Papua, aparat seakan tidak berdaya menghadapi perusuh- separatis.
Artinya, rusuh Papua adalah bentuk perlawanan AS melalui proxy di Papua terhadap manuver China yang mau pindahkan ibu kota ke kalimantan, ini bukan kebetulan.

“Seharusnya pemerintah Indonesia bisa memanfaatkan kondisi ini untuk menjadi peluang bargainning yang paling menguntungkan dari tarik menarik dua negara raksasa dunia ini. bukan malah terjepit tak berdaya seperti sekarang ini, Pemerintah Indonesia harus memperlihatkan wibawanya sebagai yang berdaulat sebuah bangsa yang besar,” pungkas wibi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *