Ajang Tahunan Infra Oscar Kemanusiaan, Fokus Bantu Korban Berdampak Tsunami Banten

 

Kota Bekasi –
Pasca ditetapkan Tanggap Darurat Tsunami oleh Gubernur Provinsi Banten, Dr. H. Wahidin Halim, M.Si (27 Desember 2018 hingga 9 Januari 2019) semakin memantik jiwa kepedulian para relawan dan kaum dermawan menyambangi kawasan terdampak tsunami, di antaranya kawasan Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Serang, wilayah Provinsi Banten.

Meski Tanggap Darurat telah usai, namun ternyata masih banyak kaum dermawan yang silih berganti ke lokasi terdampak tsunami menyalurkan donasinya ke wilayah berdambak akibat tsunami selat Sunda itu.
Sementara itu, meski pasca Tanggap Darurat Tsunami Banten usai, di berbagai titik posko, para relawan kemanusiaan, ada yang telah kembali ke barak masing masing, namun masih ada pula yang masih bertahan di posko bencana.

Didominasi relawan nasional dan daerah setempat, khususnya Kabupaten Pandeglang dan Provinsi Banten. Di antaranya BNPB, BPBD Pandeglang, Tim SAR, posko parpol dan organisasi relawan lainnya tampak bertebaran di sepanjang jalan menuju kawasan terdampak.

Komunitas relawan khusus Kota Bekasi yang sempat bertahan di kawasan terdampak, sejak 27 Desember hingga 9 Januari 2019, salah satunya tim Relawan INFRA OSCAR KEMANUSIAAN.
“Eksistensi saya di kawasan terdampak tsunami Banten, mewakili komunitas relawan Infra Oscar Kemanusiaan dari Kota Bekasi. Dalam waktu hitungan hari di sana, saya juga sempat berinteraksi dengan para stakeholder di Kabupaten Pandeglang, kebetulan saat itu saya diundang untuk menghadiri prosesi pemakaman massal korban tsunami di kawasan Kelurahan Cigadung, Karang Tanjung, Pandeglang,” tutur Tejo Susanto.

Selaku pendiri Relawan INFRA OSCAR KEMANUSIAAN, Tejo Susanto dalam pemaparannya menjelaskan bahwa
di saat itulah ia memperkenalkan diri dari relawan Infra Oscar Kemanusiaan kota Bekasi. “Respon dan apresiasi mereka luar biasa, menganggap jauh- jauh dari kota Bekasi empati kemanusiaan ke Pandeglang. Dimata mereka, terkesan Infra Oscar di kota Bekasi itu organisasi relawan besar,” terangnya.

“Jujur saya sempat nyengir dan terkesima, jika harus berceloteh sesungguhnya. Tak menyangka mereka begitu antusias menyambut tim kita,” ungkapnya kepada awak media, Sabtu (19/1/2019).

Ditandaskan lebih lanjut, sesungguhnya historisnya begini, agenda Infra Oscar akan melakukan aksi dan ekspedisi kemanusiaan, di mana merupakan ajang tahunan adventure ke kawasan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi terkait habitat Lutung Jawa.

Namun, tak disangka bencana tsunami menghantam kawasan Banten, hingga program yang telah dirancang sekian lama bertujuan aksi ke Muara Gembong, akhirnya ke Pandeglang. Saya pikir akan lebih bermanfaat,” tukas Tejo NS panggilan akrab sang pencetus relawan Infra Oscar Kemanusiaan tersebut.

Masih kata Tejo, setibanya di medan bencana banyak hal yang bisa digali dan moment yang diabadikan. “Misalnya saat saya dan tim menyambangi kawasan terisolir di Sumur dan Cimanggu. Saya melihat sebuah hunian perkampungan pesisir yang telah porak poranda. Tak ada lagi kehidupan pesisir, yang awalnya hingar bingar, mendadak berubah kegelapan saat malam menjelang. Disanalah muncul empati, bahwasanya bencana itu telah meluluhlantakkan sendi sendi kehidupan, dan bisa menimpa siapa saja,” imbuhnya.

“Saya juga melihat adanya fenomena kehidupan yang tak balance di kawasan selatan, ditemukan infrastruktur jalan yang rusak parah, dari sejak masuk kawasan Kecamatan Cimanggu hinggga ke arah Sumur dan mencapai Ujung Kulon, diprediksi berjarak sekitar 17 km,” ungkap Tejo.

Menggali infromasi ke warga bahwa ada kesenjangan di sana, meski sesungguhnya kawasan selatanlah yang paling dominan sumbang investasi APBD Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Hingga menyeruak wacana ingin memsisahkan diri dari Pandeglang.
Dalam pandangan Tejo NS asal Purworejo, Jawa Tengah ini bahwa bidang sosial kemanusiaan sesungguhnya tak asing baginya, bahkan melekat dalam jiwanya. Pasalnya, di kota Bekasi tempat bermukim banyak juga bersentuhan dengan kasus- kasus kemanusiaan, membantu orang orang terdampak sakit dan terlantar.

“Ya di Bekasi khususnya, sebagian telah familiar. Untuk peran konkret di Banten sendiri Infra Oscar Kemanusiaan sebetulnya berperan dalam skala kecil. Di antaranya dari apresiasi dan ikut dalam prosesi pemakaman korban tsunami yang tak teridentifikasi di kawasan Cigadung, Pandeglang, ikut peduli ke kawasan Desa Tangkilsari, Cimanggu kawasan terisolir, salurkan donasi,” paparnya.

Dikatakannya, bahwa awalnya memang sempat terdengar di kawasan Desa Tangkilsari, Cimanggu korban tsunami perut melilit karena setiap hari makan mie instan. Tim meluncur ke kawasan Tangkilsari dipandu staf Kecamatan Cimanggu, mantan lurah setempat. “Saat itu kami bersama Ari dari Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) Kota Bekasi, warga komplek Ambuleuit Cigadung, Karang Tanjung dan bersama Cecep Deddy, M.Si selaku Lurah Cigadung. Bergabung juga komunitas klub motor Paduluran Bulak Kulon (PBK) dan Klub Paguyuban Banten ada sekitar 30 orang dipimpin Alif,” jelasnya lagi.

Selain itu, di kawasan Pandeglang sempat ketemu warga yang terdampak sakit kista ovarium. Pasien Ipo Sulastri (22) putri Bapak Kosim akhirnya dirujuk dari RSU Berkah Pandeglang ke RS Siloam. Tentunya, bekerjasama dengan Puskesmas Cigadung, antar dan jemput pasien warga tak mampu tersebut. Pak Lurah Cigadung, Cecep Deddy juga sangat care dan empati sekali, hingga turun langsung membantu warga yang terkena musibah tersebut. Alhamdulillah, meski harus sabar menunggu setahun untuk dioperasi, akhirnya tidak ada kendala dan lancar operasinya. Isi kotoran dalam perut Ipo saat ditimbang pasca operasi mencapai 12,5 kg.

“Nah, pas kepulangan pasien Ipo, saya juga sempat berpamitan dengan mereka di RS Siloam, untuk kembali ke Kota Bekasi dan mereka pun kembali ke Pandeglang.
Di akhir perbincangan Tejo NS (Nagasakti) menyatakan bahwa meski hanya berperan skala kecil di kawasan terdampak bencana tsunami, namun telah berbuat nyata.

“Mungkin, karena saya merasa enjoy, sehingga tak ada beban di hati. Saya betah saja dan sempat dua pekan bertahan di kawasan Provinsi Banten. Dan, sempat pindah pindah lokasi, saat disana. Meski, tanggap darurat telah usai, namun demikian kemarin masih ada relawan dan kaum dermawan dari Bekasi masih ada yang ke sana. Implikasinya, meski hanya berperan dalam skala kecil, semoga bisa bermanfaat, karena sesungguhnya di manapun kita berada, seyogyanya bisa menebar kebajikan. Menumbuh-kembangkan jiwa berbagi dan empati, dari yang terkecil, dari saat ini, dan dari diri kita,” pungkasnya. (Jar/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *