Aksi Demo Mahasiswa untuk Siapa?

Oleh :, Pengamat militer Wibisono,SH,MH

 

Aksi demo mahasiswa yang yang berunjuk rasa 23 dan 24 September 2019 di sejumlah daerah, dengan agenda menolak UU KPK,RUU KUHP, RUU Pemasyarakatan dan RUU Pertanahan (agraria), begitu dramatis dan nyaris terjadi baku hantam dengan aparat, terutama kejadian hari ini di bandung dan jakarta, mahasiswa bentrok dengan aparat polisi dan banyak yang terluka.

Mengamati Demo dua hari ini saya tidak ingin terbawa informasi yang belum jelas, apalagi menyimpulkan mahasiswa benar benar telah mulai bergerak.

Presidenpun dengan cepat tanggap mengumumkan bawah RUU KUHP, RUU Pemasyarakatan,RUU Pertanahan (agraria) ditunda pengesahannya, tinggal menyisakan UU KPK yang terlanjur sudah di sahkan DPR.

Banyak keanehan yang saya amati dengan demonstrasi mahasiswa kali ini, seperti demo di depan Gedung DPR melebihi batas waktu, yaitu jam 18.00, lunaknya sikap aparat, termasuk munculnya gerakan mahasiswa secara tiba-tiba dengan isu revisi UU KPK dan RUU KUHP.

DPR pun hari ini telah menunda 4 RUU, yaitu RUU KUHP, RUU Pemasyarakatan,RUU minerba,dan RUU Agraria, artinya tuntutan mahasiswa sudah tercapai,kecuali UU KPK yang sudah terlanjur di sahkan DPR.

Sedangkan UU KPK hasil revisi sudah disahkan oleh DPR, mahasiswa tuntut presiden mengeluarkan Perpu, Bila Presiden tidak tanda tangan, tidak secara otomatis berlaku. Apalagi belum diundangkan dalam lembaran negara. Masih ada waktu 30 hari bagi Presiden untuk tanda tangan atau tidak. Wajar kalau publik curiga. DPR dan Presiden sedang “bermain-main” dengan menggoreng beberapa RUU untuk agenda pengalihan isue.

Aksi demo mahasiswa dua hari ini mengejutkan masyarakat dan publik, karena secara tiba tiba turun ke jalan dengan kekuatan penuh yang tergabung dalam BEM seluruh indonesia.

Hampir seluruh BEM di Universitas ternama diindonesia bergerak. Tuntutannya ‘mosi tidak percaya’ kepada DPR dan Pemerintah, akankah agenda mahasiswa ini berlanjut?.

Saat ini indikasi terjadi konflik kepentingan kelompok di internal presiden, telah terjadi “Perang proxy” di antara Kelompok orang orang di sekitar presiden. Salah satu kelompok konon akan dihabisi ambisi politiknya. Persaingan dan perebutan posisi politik di kabinet yang akan datang, apa ini benar?

Atau bisa juga “disetting” sedemikian rupa oleh dua kelompok tersebut. Kita akan mengetahui siapa lawan siapa, siapa dapat apa, dan siapa tidak dapat apa-apa setelah 20 Oktober 2019. Dari sinilah kita akan mengetahui siapa aktor intelektualnya.

Kita perlu waspada, aksi demo mahasiswa yang murni takut ditunggangi oleh kelompok tertentu, saya sangat berharap adik adik mahasiswa terus menyuarakan suara rakyat,suara ke pedulian dan suara tulus untuk tetap dijaga demi Perubahan Indonesia.

Mari kita tunggu akhir dari drama ini, mahasiswa masih bertahan di depan Gedung DPR/MPR, aparatpun masih ingin membubarkan aksi demo yang melebihi jam batas. Semoga tuntutan mahasiswa dapat memenuhi rasa keadilan di masyarakat.

(Penulis: pengamat militer Wibisono)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *