Dalam Dua Minggu, Terminal Bandara Palu Sudah Bisa Difungsikan

 

Dalam Dua Minggu, Terminal Bandara Palu Sudah Bisa Difungsikan

WIKA terus berusaha mendukung pemulihan fisik gedung Bandara

Mutiara SIS Al-Jufrie akibat gempa hebat yang menimpa Kota Palu. Dalam waktu dua minggu, Tim Tanggap Darurat WIKA berhasil merapikan sebagian area terminal Bandara Palu. Kini area yang

sudah rapi dan dapat difungsikan diantaranya ruang tunggu keberangkatan dan counter check in, area kedatangan, dan kantor maskapai yang berada di lantai 1 bandara serta area parkir kedatangan. Pekerjaan pembersihan bandara juga tengah berlangsung di lantai 2 bandara dan ditargetkan akan selesai pada hari Rabu (17/8).

Menurut Budiyanto Setiawan, Koordinator Renovasi Bandara Palu, saat ini, bongkahan bata yang menggantung di langit-langit bandara akibat stek besi masih menempel di beton dan berpotensi

mencederai penumpang juga sudah diturunkan, karena lokasi tersebut persis berada di area pengambilan bagasi yang tentunya banyak penumpang berlalu lalang.

Sejalan dengan pembersihan bandara, Tim Tanggap Darurat WIKA juga sedang melakukan perbaikan fungsi mekanikal elektrikal bandara yang pada saat ini sudah masuk pada tahapan tes kelayakan

elektrikal. Sementara itu, untuk struktur bandara juga dilakukan perkuatan struktur kolom yang rusak setelah terjadinya gempa.

Pengerjaan saat ini bisa dikerjaan lebih cepat dari sebelumnya dikarenakan akses pengiriman barang-barang material yang

dibutuhkan untuk menunjang proses renovasi sudah lebih mudah dibandingkan pada saat awal dilakukan pengiriman bantuan.

“Kami berupaya agar Terminal ini dapat berfungsi secara optimal dalam waktu dekat. Proses pengerjaan sekarang juga telah didukung oleh Angkasa Pura I dan Airnav terkait pengiriman material dari

Lanud Makassar dan Balikpapan. Kita dapat kesempatan untuk menggunakan jalur udara tersebut dikarenakan pengiriman lewat darat memakan waktu yang cukup lama,” ungkap Budiyanto Setiawan yang biasa disapa Wawan

Direktur Utama WIKA Tumiyana mengatakan bahwa berkat kerja

keras Tim Tanggap Darurat di Bali, kini terminal tersebut sudah dapat difungsikan. Ini merupakan bentuk komitmen WIKA untuk mendukung upaya Pemerintah melalui Kementerian PUPR dan Kementerian BUMN untuk mempercepat pemulihan daerah terdampak bencana tersebut.

Dukungan dalam penanggulangan bencana di Palu Donggala juga diwujudkan dengan pengerahan sejumlah excavator dan truk angkut untuk mendukung Basarnas dan Kementerian PUPR dalam upaya evakuasi dan memperbaiki jalur akses yang semula hancur setelah

terkena gempa dan tsunami. Alat berat tersebut didatangkan dari berbagai lokasi, salah satunya adalah dari Proyek Pembangunan Jalan Tol Balikpapan – Samarinda.

Tumiyana kemudian menyampaikan kesiapan Perseroan mendukung program pemerintah untuk proses rehabilitasi salah satunya dengan membangun hunian sementara (huntara) bagi warga yang terkena bencana. Hunian sementara ini dibangun karena rumah warga di daerah tersebut sudah hancur dan tidak bisa lagi ditinggali.

Kisah Menarik Dibalik Kesibukan Tim Tanggap Darurat WIKA

Disamping mengerahkan alat berat untuk membuka jalur akses dan bekerja tanpa lelah untuk memulihkan kembali kota-kota tersebut, cerita lain lahir dari sosok Virzan yang selama menjadi relawan di Palu dan bekerja sebagai Asisten Mekanik Alat Berat Divisi Peralatan dibawah bimbingan Pelaksana Alat.

Virzan dalam kesehariannya bertugas untuk menjaga terselenggaranya operasi alat berat agar tidak rusak, guna membersihkan jalan dari tumpukan sampah dan gundukan tanah. Disaat senggang dan seusai bekerja, biasanya Virzan rutin menjalankan ibadah sholat dan membaca Alquran di Mushola Kecamatan Tanam Bulawa Desa Sibalaya kab. Sigi.

Pada suatu kesempatan, seusai menjalankan sholat Magrib, hujan deras mengguyur Desa Sibalaya. Sebagian jamaah yang terdiri dari anak-anak dan orang dewasa memilih untuk menunggu di mushola hingga hujan reda.

Tanpa berpikir panjang, Virzan langsung berinisiatif untuk mengisi waktu luang tersebut dengan membaca Alquran dan pada saat itu dengan mengajak anak-anak korban bencana gempa dan tsunami

yang masih berada di mushola untuk belajar mengaji.

“Mereka masih trauma dengan apa yang terjadi. Saya hanya berusaha untuk mengalihkan ketakutan anak-anak dengan

mengajarkan nilai-nilai agama,” cerita Virzan.

Menurut Virzan saat belajar agama, anak-anak tampak begitu semangat dan gembira. Dirinya berharap dengan menjadi guru agama, dia punya kesempatan untuk memberikan nilai-nilai baik di tengah keterpurukan anak-anak dan orang tua mereka.

Niat baik Virzan bukanlah hal baru.Menurut Yansari, Site Manager Divisi Peralatan, Virzan memang terkenal sebagai pribadi yang peduli terhadap lingkungan sekitar terutama anak-anak. Selama 1,5 tahun

bekerja sebagai asisten mekanik, Virzan Bersama rekan-rekannya juga selalu menyempatkan diri menjalankan ibadah rutin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *