Financial Technologi (Fintech) adalah kamuflase dari industri keuangan

 

Praktek – praktek korporasi Industri fintech berbasis digital Peer to peer ( P2p lending) telah memporak – porandakan sistim keuangan dan finansial serta peradaban sosial, begitu juga dengan khaedah – khaedah dan norma – norma hukum yang berlaku di Indonesia.

Praktek Korporasi itu tidak didukung dengan sistim dan regulasi kebijakan yang tunduk dengan sistem hukum perdata.

Financial Technologi (Fintech) adalah kamuflase dari industri keuangan yang ingin merampok rakyat negri ini, dengan kedok Fintech para pelaku industri keuangan ini bermetamorfosis menjadi Rentenir Online dan sungguh sangat brutal merampok rakyat yang kesulitan ekonomi.

 

Parahnya perusahaan – perusahan Rentenir itu hampir seluruhnya tidak mengantongi ijin perbankan / transaksi keuangan dari pemerintah, bahkan Rentenir Online itu juga menggunakan suku bunga gila – gilaan sebesar 50 % / 14 hari.

Dengan analogi sebagai berikut : “ Jika seorang kreditur meminjam kepada Rentenir Online uang sebesar Satu Juta Rupiah, maka korban akan dikenakan modus biaya admintrasi sebesar 200 Ribu Rupiah sehingga dana chas yang diterima oleh korban itu menjadi 800 ribu saja, sedangkan dalam batas waktu 14 hari para korban harus mengembalikan pinjaman sebesar 1,2 juta, namun jika korban tidak melunasi pinjamannya dalam batas waktu yang ditentukan perusahaan – perusahan Rentenir Online maka akan dikenakan bunga harian sebesar 50 – 100 ribu bahkan bisa lebih dari angka itu, bayangkan saja jika sikorban telat membayar hingga 2 bulan maka total keseluruhan hutangnya bisa menjadi 5 – 10 Jutaan (hitungan angka diatas tergantung dengan jenis aplikasi pinjaman onlinenya).”

 

*- Jebakan Rentenir Online*

Kemudahan dalam pencairan pinjaman sengaja mereka buat agar masyarakat semangkin banyak terjerat dalam lilitan utang (telat bayar) sehingga memunculkan ketergantungan pada perusahan Fintech itu sendiri, dengan terlilit utang maka para korban akan terjerat pada bunga harian yang akhirnya membuat para korban tidak lagi berfikir rasional, sehingga mereka mengambil jalan pintas untuk membuat pinjaman pada aplikasi yang lain (itu – itu juga perusahaannya) demi melunasi utangnya (gali lubang tutup jurang), metode gali lubang tutup jurang yang dilakukan oleh para korban itu tidak serta merta mereka lakukan sendiri, akan tetapi hal itu atas saran dan bimbingan oleh para Debt / Dest Colektor yang menagih pada mereka.

Jika korban sudah masuk dan terjebakan kedalam perangkap skema utang yang dibuat oleh para perusahaan Fintech (Rentenir Online Jahanam itu), maka secara langsung para korban sudah sangat sulit keluar dari perangkap skema utang perusahan Fintech, dan akhirnya menjadi sapi perahan mereka untuk terus merampok masyarakat. Jika korban sudah tidak mampu membayar utang mereka, maka para Rentenir Online jahanam itu mengeluarkan peliharaannya (Debt/ Dest Colector) untuk memburu dan mengintimidasi serta mencaci – maki demi mempermalukan kreditur.

*- Lemahnya Pengawasan Pemerintahan Jokowi.*

Masifnya Aplikasi Pinjaman Online yang tidak memiliki ijin akibat dari pembiaran yang dilakukan oleh pemerintah dan bahkan disinyalir adanya gelontoran dana (Suap) yang masuk kekantong – kantong pribadi sehingga para Rentenir Online bebas melakukan perampokan terhadap rakyat serta melemahkan ekonominya.

Lemahnya pengawasan dan penindakan Pemerintah terhadap praktek industry Keuangan justru semakin menumbuh suburkan perusahaan – perusahan Rentenir yang melakukan PENIPUAN dengan menawarkan berbagai kemudahan kredit keuangan kepada masyarakat. Dengan memanfaatkan pesatnya kemajuan tehnologi perusahan – perusahan itu segera bermetamorfosis menjadi Rentenir Online dengan meluncurkan berbagai aplikasi – aplikasi dan menawarkan pinjaman serta berbagai kemudahan (skema jeratan) dalam pencairan dana terhadap mereka yang menjadi konsumennya.

Parahnya lagi Rentenir Online itu juga telah menyiapkan Debt Colector / Desk colektor tidak manusiawi dalam melakukan penagihan kepada para kreditur yang melakukan penunggakan pembayaran, dari mulai mencaci – maki dengan bahasa – bahasa tidak senonoh hingga pengancaman akan mempermalukan (menggalang donasi, memfitnah pada no kontak yang dihubungi sebagai penanggung jawab) keseluruh no kontak di HP korban (karena telah meretas HP milik Korban), memaksa kreditur untuk mencari pinjaman lain bahkan menyuruh untuk menjual barang – barang hingga dipaksa untuk jadi pelacur (Jika korbannya perempuan).

*- Cara Penagihan Yang Tidak Manusiawi*

Bahkan lebih brutalnya lagi Debt / Desk Colektor yang disiapkan oleh para rentenir online itu tidak segan – segan menagih dengan cara memaksa kepada seluruh no kontak yang ada di HP korban, dengan mengatakan bahwa korban telah membuat no mereka menjadi kontak darurat dan memaksa pemilik no tersebut harus membayar utang korban (padahal mereka yang dihubungi itu bukan no kontak darurat yang dicantumkan), jika di dalam HP korban ada no orang tuanya maka Desk/Debt colektor tersebut mengatakan “Anak Bapak/Ibu telah melarikan uang perusahaan kami dan sekarang sudah dicari oleh polisi” sehingga membuat panic orang tua korban, Bahkan tidak menutup kemungkinan orang tua tersebut terkena serang jantung dan meninggal dunia.

Cara – cara penagihan yang tidak manusiawi seperti itu akan menjadi pemicu konflik sosial ditengah masyarakat sehingga bisa bermuara pada rusaknya hubungan kekerabatan dan persaudaraan, bahkan banyak diantara para korban pinjaman online itu harus menanggung malu serta berkelahi dengan rekan, saudara maupun tetangga tempat tinggalnya. Lebih sialnya lagi para debt/desk colektor jahanam ini tidak segan – segan datang ketempat kerjaan para korban dan mencaci maki – maki rekan, atasan dengan tujuan agar korban segera dipecat dari tempat kerjaannya. Akibat tindakan tidak manusiawi yang dilakukan oleh para Debt/Desk colektor jahaman ini, maka membuat banyak korban yang kehilangan pekerjaan, rumah tangga yang harus berantakan, menjadi depresi hingga berakhir dengan BUNUH DIRI.

Sudah banyak korban yang kalap dan ketakutan sehingga memunculkan ide – ide konyol seperti “Ingin menjual organ tubuh, ingin bunuh diri (Bahkan ada yang telah mencoba bunuh diri dengan memotong urat nadinya), sampai korban gantung diri karena tidak kuat menghadapi intimidasi dan teror yang dilakukan oleh Anjing – anjing Rentenir Online Jahanam tersebut.

*- Maraknya Perlawanan Rakyat.*

Abainya pemerintahan  dalam merespon permasalah ini serta membuktikan bahwa Pemerintahan telah menjadi alat propaganda kepentingan oligarki global, terutama Intervensi Negara China dan Singapura terhadap Indonesia. Selain itu industri fintech juga berpotensi melakukan kejahatan financial seperti Penggelapan Pajak dan Pencucian Uang. Sebab hingga saat ini OJK belum juga merilis data akurasi badan hukum fintech tentang asal muasal Investasi kepemilikan modal, baik yang legal maupun illegal.

Oleh karena itu, kami dari GERAKAN BEKA KORBAN PINJAMAN ONLINE, akan memastikan untuk terus mengorganisir masyarakat yang menjadi korban agar bergerak melawan dan menghadang para pelaku yang bermain dalam bisnis Rentenir Online serta memperjarakan para pelaku kejahatan industri fintech hingga ke Pengadilan dalam batas waktu yang tidak terbatas.

Kami juga mendesak Pemerintah Jokowi – JK jangan membiarkan praktek – praktek Rentenir online ini, jika masih dibiarkan maka secara tidak langsung pemerintahlah yang melindungi para rentenir online dan sekaligus pelaku utama dalam memiskinkan rakyat sendiri serta menjadi sumber utama dari konflik sosial yang ada ditengah – tengah masyarakat.

Kami menuntut agar Rezim Jokowi – JK segera :

1. Bubarkan Otoritas Jasa Keuangan.
2. Bubarkan Komnas HAM.
3. Copot Mentri Komunikasi Dan Informatika.
4. Copot Mentri Keuangan.
5. Copot Gubernur Bank Indonesia.
6. Tutup Seluruh Aplikasi Rentenir/Pinjaman.
7. Tangkap serta Adili pemilik dan pegawai perusahaan Rentenir Online.
8. Hentikan Intimidasi, Teror dan sebar data terhadap para korban Rentenir Online.
9. Sita seluruh asset – asset Perusahan Rentenir Online yang telah merampok rakyat Indonesia.
10. Berikan perlindungan terhadap para korban Rentenenir Online.
11. Tangkap dan adili para pencuri data para korban Rentenir Online.
12. Menindak tegas seluruh oknum – oknum pejabat Negara yang terlibat dalam skema Fintech (Rentenir Online).
13. Kemenkeu, Kominfo dan Bank Indonesia Harus bergerak cepat memblokir seluruh aplikasi dan transaksi keuangan para Rentenir Online.
14. Berlakukan Hukuman Mati Bagi Desk/Debt Colektor yang telah mengintimidasi dan meneror korban rentenir online.

Dan buat para korban rentenir online mari kita berjuang bersama untuk menghadapi mereka, karena praktek – praktek rentenir ini harus dilawan. Mari kita bersatu bahwa kita juga punya hak untuk mendapatkan keadilan dinegri ini. Atas itulah kami dari “Indonesia Law Enforcement Watch” dan Lembaga Bantuan Hukum Nusantara telah membuka posko pengaduan di Kantor ILEW / LBH Nusantara yang beralamat di Jalan Veteran 1 No 33, Gambir Jakarta Pusat (Disamping Mabes AD, besebelahan dengan Masjid Istiqal).

Pimpinan Aksi

Nicho Silalahi
(081376645000)

Aksi ini dilakukan di PN JAKPUS 14 MEI 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *