Import Pangan bikin Elektabilitas Pemerintahan Jokowi Terjun Bebas

Ketua Pendiri GARDA PAS Wibisono dan Sekjen Garda Pas Doddy Toisuta.

 

Jakarta,20 januari 2019 sekjen Garda Pas Doddy Toisuta menyatakan ke media di jakarta bahwa akhir akhir ini import pangan semakin membengkak sepanjang semester 2/2018,komoditas seperti beras,kedelai,gula dan garam menjadi penyumbang terbesar import dari luar negeri pada periode ini.
Saya mencatat data BPS,nilai import barang konsumsi sepanjang januari-juni 2018 mencapai usd 8.18 milyard,naik menjadi 21.64%.

Catatan saya yang lain adalah pemerintah import Jagung 100 ribu ton,dan
Kemendag Kembali buka Izin import 100 ton bawang putih,belum lagi import daging sapi yang defisit sekitar 233 ribu ton yang akan dipenuhi dari sapi import sebanyak 600 ribu ekor atau setara daging sekitar 119 ribu ton, sisanya dipenuhi dari daging import,ujar Doddy

Selain itu pemerintah Izinkan Impor 1,1 Juta ton gula tahun Ini,
pemerintah juga import beras sampai sampai akhir tahun 2018 capai Beras 2 Juta ton ,belum cukup hanya beras
Pemerintah juga akan impor garam Industri 3,7 Juta ton.
Komoditi lain sepanjang januari-juli 2018 yaitu import singkong Vietnam mencapai 1.234 ton dengan nilai 499,8 ribu dolar AS. Sedangkan pada April 2017 impor singkong mencapai 499,8 ton dengan nilai 94,6 ribu dolar AS.

Dalam kurun waktu 10 bulan, Indonesia mengimpor sayur dari sejumlah negara senilai US$ 654,70 juta dan buah-buahan senilai US$ 942,10 juta.
Nilai Impor Buah Melewati Ekspor Buah Lokal.

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai impor buah periode Januari-September 2018 sebesar US$ 908,5 juta atau naik 11,5% dibandingkan periode sama 2017 yang sebesar US$ 814,8 juta.
Agustus 2018, Impor Telur, Susu, dan Mentega Melonjak 94,19 PersenData BPS menunjukkan, nilai impor susu, mentega, dan telur pada Agustus 2018 mencapai 100,2 juta dollar AS. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan pada bulan sebelumnya yang mencapai 51,6 juta dollar AS.

Sementara itu menurut Rahman Sabon Nama (Ketua Umum Asosiasi Pedagang dan Tani Tanaman Pangan dan Hortikultura Indonesia-APT2PHI),
Memberikan catatan khusus dari Visi Presiden Jokowi dan debat capres perdana (17/01) antara paslon presiden Joko Widodo-KH.Maruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Salahudin Uno.

Pertanyaan menohok Capres Prabowo Subianto meminta kontroversi antar Menteri Kabinet terkait impor pangan berlebihan saat musim panen, membuat capres petahana mati kutu, memastikan membuat rakyat tertegun dan kaget kecewa berat.

Presiden Jokowi sendiri membuka tabir siapa aktor dibalik misteri kebijakan kepentingan pangan berlebihan rakyat dan memiskinkan petani Indonesia tersebut. Ternyata keputusan penting makanan yang ditentang rakyat dilakukan atas perintah presiden Joko Widodo sendiri.

Bagaimana publik tidak kecewa, karena Ahad (13/01) empat hari sebelum debat, Jokowi ketengahkan visi sebagai presiden, yang berbasis visioner Nawacita dengan penonjolannya lebih pada suksesnya pembangunan infrastruktur, publik yang positif dan bagus.

Tapi mau dibilang materi yang diketengahkan itu sebagai “visi”, tentu saja naif. Asbabnya, apa yang disorot Jokowi tak lebih dari apa yang didukung pembangunan selama lima tahun menjadi presiden. Jadi, bukan sebentuk “visi” (visi ideal tentang masa depan yang ingin dicapai) pada persetujuan Capres 2019-2024.

Satu di antara sektor pembangunan yang disorot Jokowi sebagai keberhasilan kepresidenannya adalah program swasembada pangan. Untuk berswasembada pangan, Jokowi, telah dibangun bendungan-bendungan besar, perbaikan, hingga embung irigasi 3000 buah.

Lalu infrastruktur jalan dan jembatan serta prasarana lain, termasuk jalan-jalan desa di berbagai daerah, sudah diperbaiki dan dibangun. Semua itu menurut Jokowi, untuk meningkatkan produksi pangan menuju swasembada pangan nasional. Tapi akankah hal ini terwujud seperti yang ia janjikan juga dalam kampanye Pilpres 2014?.
Sampai saat penyampaian visi kepresidenannya terjawab sudah tadi malam di debat, Jokowi hanya pura-pura mengingat petani visinya masih jauh dari titik tuju capaian swasembada makanan,ujar Rahman Sabon.

Menurutnya janji kampanyenya di nalar rakyat: nol fakta . Pepesan kosong yang berpartisipasi dalam pemikisnan petani. Indikasinya simpel: atas kebijakan presiden kran impor beras dan gula, misalnya, dibuka begitu leluasa. Nyaris tidak peduli dengan orang-orang yang ada di musim panen raya padi.

Pertama , pada awal Maret 2018 misalnya, keluar kebijakan impor beras oleh pemerintah Jokowi yang bermuara pada impor 2,5 juta ton. Itu di saat-saat akan ada panen raya pada bulan April 2018

Menolak KaBulog Budi Waseso menolak alasannya gudang Bulog penuh, sehingga beras banjir bandang di pasar. Sontak saja yang berhasil bangkit, masyarakat umum tani padipun mencak-mencak, puas. Sementara itu, kaum saudagar importir makanan ketawa-ketiwi menikmati untung.
Celakanya, pemerintah / Bulog pun harus mengalami kerugian. Beban uang ini ditangguhkan oleh pemerintah ke pedagang pasar, pedagang yang diperdagangkan untuk membeli beras Bulog dengan sistim budling / subsidi silang 2: 1 pedagang mensubsidi kerugian pemerintah.

Kedua , belum reda gaduh impor beras, beralih petani jadi korban berikutnya. Yakni, kompilasi petani tebu sedang panen, tahun ini sama (2018), muncrat lagi kebijakan impor 3,5 juta ton gula. Salah satu importir gula itu ditengarai dilakukan pengusaha WNI Cina berstatus DPO kasus Bulog Kabulog Bedu Amang.

Ketiga, dan yang teranyar awal 2019 rakyat dan petani gula dibuat terkaget-kaget lagi. Ada kebijakan impor gula 1,7 juta ton oleh pemerintah. Betul-betul absrud, disesalkan di bawah kepemimpinannya negara dikelola seperti Corporate State.

Pagi tadi (18/01) saya banyak mendapat telpon dari petani tebu di Bondowoso, Probolinggo dan Kediri Jawa Timur, tentang kebijakan impor awal Januari 2019 ini.

 

Di tempat terpisah Ketua pendiri Garda Pas, mengatakan bahwa Garda Pas adalah tempat bernaungnya petani dan pedagang pangan, meminta ada kearifan nasionalisme Presiden Jokowi, agar segera meminta bantuan pangan tambahan,
Saya berharap kebijakan import pangan ini segera di tinjau ulang untuk tahun 2019 ini,kalo tidak saya yakin elektabilitas jokowi akan terjun bebas ,pungkas wibisono.
[20/1 09.02]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *