Jalih Pitoeng Orasi di depan Gedung DPR MPR

 

Jakarta. Aksi rutin dan berseri yang digagas oleh aktivis betawi Jalih Pitoeng di gedung DPR MPR Jl. Gatot Soebroto Jakarta Pusat tetap dilaksanakan walau nampak tidak banyak yang hadir karena diterpa isyu pembatalan dan upaya penggembosan.

Aktivis betawi Jalih Pitoeng selaku penggagas konsep perjuangan rakyat DPR RI duduki DPR MPR secara berseri ini mengatakan akan tetap istiqomah, konsisten dan konsekwen hingga rezim ini berakhir pada masa priode pemerintahannya.

“Ini merupakan aksi kedua kami dari DPR RI (Dewan Persaudaraan Relawan dan Rakyat Indonesia) yang mengusung tema Gerakan Rakyat Menolak. Dan hari ini ada dua aksi yaitu juga sedang berlangsung di Mabes Polri. Kami terus berkoordinasi dengan para pihak yang menggelar aksi disana terutama kepada Ketua Umum FPI yaitu KH. Shabri Lubis. Karena tuntutan aksi disana juga merupakan bagian dari tuntutan kami disini. Adapun yang kami tolak adalah beberapa kebijakan dan rencana serta rancangan undang-undang yang berpotensi merugikan rakyat” kata Jalih Pitoeng dalam orasinya di depan gedung DPR MPR, Jum’at (13/09) siang.

“Disamping itu kami juga menyampaikan beberapa tuntutan. Terutama meminta pertanggung jawaban presiden Joko Widodo selaku kepala negara sekaligus kepala pemerintahan terhadap Pristiwa Berdarah Tragedi Kemanusiaan dimana 9 tunas bangsa meregang nyawa dan meninggalnya 622 petugas KPPS secara hampir bersamaan. Termasuk pristiwa yang sedang mendera ketua umum FPI KH. Shabri Lubis yang kemarin berdar kabar akan dipanggil oleh pihak kepolisian sebagai saksi dugaan tindakan MAKAR” sambung Jalih Pitoeng

“Orang-orang, relawan dan para politisi boleh saja sibuk dengan istilah koalisi atau oposisi serta terbuai oleh isyu-isyu yang sengaja dikembangkan untuk melupakan pristiwa tragis tersebut. Tapi saya Bang Jalih Pitoeng serta seluruh rekan-rekan pejuang keadilan yang tergabung dalam DPR RI akan tetap istiqomah melakukan unjuk rasa tiap hari Jum’at disini sebagai salah satu bentuk kepedulian terhadap perjuangan menegakan kebenaran. Ini soal nyawa anak manusia. Jadi jangan kita lupa dan terbuai hanya karena sibuk mengatur posisi menteri, mencari letak kursi digedung ini serta berbagai kepentingan pribadi, kelompok dan golongan tapi melupakan NYAWA yang HILANG. Takbir…!!!” tegas Jalih Pitoeng disambut teriakan Allahu Akbar

Sementara Sri Bintang Pamungkas yang hadir dalam gelaran aksi yang mengusung tema “Gerakan Rakyat Menolak” mengatakan dengan singkat.

 

Kata tokoh oposisi yang sejak era kepemimpinan Soeharto selalu lantang menyuarakan kritikan terhadap penguasa.

“Sudah terlalu banyak persoalan bangsa yang bikin rakyat susah sebagaimana tadi sudah di sampaikan oleh bang Pitoeng. Tapi sesungguhnya kuncinya adalah bahwa Jokowi sudah jangan jadi presiden lagi. Setuju….???!!!” Kata SBP panggilan populer Sri Bintang Pamungkas disambut teriakan setuju dari para peserta aksi.

“Jokowi enggak ngerti maunya rakyat. Rakyat tidak menginginkan pemindahan ibukota. Rakyat hanya ingin agar Jokowi jangan jadi presiden lagi. Lima tahun saja sudah kacau negeri ini dibuatnya. Rakyat sengsara dibuatnya” pungkas SBP

Dalam sambutan penutup, Jalih Pitoeng juga mengajak seluruh elemen masyarakat yang masih mencintai keadilan untuk bergabung atau menggelar acara yang sama dimasing-masing daerah.

“Dalam kesempatan ini, saya berharap dan memohon kepada seluruh anak bangsa, seluruh elemen masyarakat, rakyat serta umat yang masih mencintai negeri ini demi tegaknya keadilan sebagai salah satu dasar dan tujuan serta cita-cita luhur kemerdekaan bangsa ini yang tersimpul dalam pancasila serta termaktub pada UUD 1945 sebagai pedoman dalam berbangsa dan bernegara, untuk bergabung disini dan atau melakukan aksi yang sama di daerah masing-masing” ajak Jalih penuh harap

“Tak seorangpun yang bisa melarang kita untuk menyampaikan pendapat seperti ini. Dan saya sangat yakin dan percaya bahwa bapak-bapak serta adik-adik kepolisian faham betul akan hal itu. Karena mereka dididik di PTIK dengan menggabiskan milyaran rupiah uang rakyat untuk menjadi polisi yang memegah teguh sumpah TRIBRATA yang kemudian saat ini mengembangkan sesuai kemajuan tekhnologi yang dikenal PROMOTER” jelas Jalih Pitoeng seraya berteriak bersama para peserta aksi, hidup polisi…!!!

“Jadi jika ada upaya-upaya penggembosan, intimidasi, pencegahan dan atau pelarangan maka sesungguhnya merekalah teroris yang sesungguhnya. Merekalah yang tidak PANCASILAIS. Mereka lah yang selalu berteriak merdeka, Pancasila, NKRI harga mati, namun tidak mampu memaknai essensi dari sebuah proklamasi. Mohon maaf saya mengistilahkan hal ini adalah disorientasi PROKLAMASI. TNI dan POLRI tidak akan melarang kita. Karena apa…?! Karena, Jokowi boleh berhenti. Rezimpun terus berganti. Tapi TNI dan POLRI akan selalu bersama rakyat dalam pelukan ibu pertiwi”. Pungkas Jalih Pitoeng biasa dipanggil BJP.
[15/9 08.49]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *