Karhutla Bencana yang Berulang dari Tahun ke Tahun Tanpa Solusi yang Serius

 

Pengamat Publik dan Wakil ketua Lembaga Pertanian dan Kehutanan PBNU Yunus Razak

 

Jakarta, Masalah kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Riau selalu terulang setiap tahunnya. Beberapa hari terakhir, kabut asap pekat kembali melanda Pekanbaru Riau, “ini sangat memprihatinkan, harusnya pemerintah menetapkan bencana Nasional terhadap Karhutla ini,” ujar Pengamat publik Yunus Razak Menyatakan ke awak media di jakarta (16/9/2019).

Menurutnya situasi ini sudah tidak biasa dianggap sepele, Presiden Jokowi harus tegas untuk menindak para pelaku kebakaran, karena akibat kabut asap yang pekat di Riau ini,masyarakat yang menderita, bencana ini dari tahun ke tahun tanpa solusi yang serius dari pemerintah.

Saat ini jarak pandang bahkan hanya berkisar 800 meter, udara dalam keadaan bahaya untuk di hirup manusia.

Sementara itu menurut Pengamat pangan dan lingkungan hidup Wibisono menyebutkan, pencemaran udara di delapan wilayah Riau sudah berada di atas angka 300 atau level berbahaya bagi manusia. Angka ini didapatkan berdasarkan pengamatan peralatan pemantau cuaca yang telah dianalisis dalam angka ISPU.

Peristiwa tahunan
Kabut asap dan kebakaran hutan dan lahan di Riau bukan terjadi kali ini saja, tapi berulang kali.

“Peristiwa ini selalu berulang setiap tahunnya. Kilas balik, pada 2015-2016, hutan di kawasan Riau pernah mengalami kebakaran yang cukup parah yang juga mengakibatkan terjadinya kabut asap sampai ke negara tetangga,” ujar wibi.

Saat itu, kebakaran yang terjadi mengakibatkan 5.595 hektar lahan dan hutan terbakar. Dampaknya, perekonomian Riau lumpuh, sekolah diliburkan, bandara tutup, dan ribuan warga terjangkit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Doni Monardo mengungkapkan bahwa kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau semakin memburuk. Sehingga sangat mengganggu aktivitas warga.

Keadaan itu diungkapkan setelah Doni mendampingi Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto melakukan analisis dan evaluasi (anev) serta peninjauan langsung karhutla di lokasi.

Kualitas udara dengan kategori sedang hingga sangat tidak sehat terpantau di beberapa titik.

Yunus meminta pemerintah daerah bertindak serius, tidak hanya bermain kata-kata dalam menangani bencana asap.

Sebelumnya, kita sering mendengar slogan ‘Riau Tanpa Asap’, nyatanya, jauh panggang dari api.

“Saya tidak ingin hanya slogan-slogan. Dulu saya senang dengan pernyataan Riau Tanpa Asap. Tapi apa, hari ini Riau penuh asap,” ujar Yunus yang juga mantan waketum PP Ansor ini.

Menurut catatan BNPB, luas karhutla di Riau mencapai 49.266 hektar. Di antaranya lahan gambut seluas 40.553 hektar dan mineral 8.713 hektar. Karhutla masih terus berlangsung dan mengakibatkan dampak yang luas.

Rekapitulasi Data P3E Sumatera KLHK dan Dinas LHK Provinsi Riau mencatat indeks standar pencemar udara (ISPU) tertinggi di wilayah Pekanbaru 269, Dumai 170, Rohan Hilir 141, Siak 125, Bengkalis 121, dan Kampar 113.

Angka tersebut mengindikasikan kondisi kualitas udara tidak sehat atau penunjuk angka 101 – 199. kualitas udara di wilayah Riau pada kondisi sangat tidak sehat hingga berbahaya.

Data juga menunjukkan kualitas udara di provinsi lain, seperti Jambi (123), Kepulauan Riau (89), Sumatera Selatan (51), Sumatera Barat (46) dan Aceh (14). Kualitas udara yang diukur dengan ISPU memiliki kategori baik (0 – 50), sedang (51 – 100), tidak sehat (101 – 199), sangat tidak sehat (200 – 299), dan berbahaya (lebih dari 300).

Lanjutnya, karhutla adalah pembunuh yang tidak bisa diketahui secara langsung. Membiarkan asap adalah membiarkan kerusakan generasi yang akan datang.

Dia menekankan agar seluruh unsur, baik masyarakat hingga pemerintah daerah agar bersinergi melakukan penanggulangan melalui upaya pencegahan, pungkasnya.(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *