KEBAKARAN “AREA LAPAK PEDAGANG” DI CAKUNG HARUS TEGAS DITINDAKLANJUTI

KEBAKARAN “AREA LAPAK PEDAGANG” DI CAKUNG HARUS TEGAS DITINDAKLANJUTI

Oleh:
Prof. Dr. Manlian Ronald. A. Simanjuntak, ST., MT., D.Min
(Guru Besar UPH).

 

 
Jakarta.Kebakaran di Kawasan Cakung, Jakarta Timur hari Kamis, 26 Juli 2018 memakan korban 2 orang meninggal. Kebakaran yang terjadi di “area lapak pedagang” di Cakung Jakarta Timur juga berdampak kepada bangunan gedung hunian di sekitarnya. Sampai kajian ini diteliti, penyebab kebakaran masih diteliti. Penyebab kebakaran “klasik” berupa arus pendek perlu dicermati benar.

 

Apakah ini benar penyebabnya, atau ada penyebab yang lain? Oleh karena antisipasi kebakaran berbasis pencegahan, dimana seharusnya jauh sebelum ada api, perlu dicermati kelaikan bangunan gedung baik dari segi kelaikan kepemilikan, kelaikan peruntukan, kelaikan ijin pembangunan, kelaikan sistem proteksi kebakaran, maupun kelaikan penghuni (human system) yang mampu “mencegah” terjadinya kebakaran.

 

Dua pertanyaan penting untuk kita cermati bersama belajar dari kebakaran di Cakung:
1. Apa hal penting yang
perlu dicermati
dari kebakaran
yang terjadi?
2. Apa rekomendasi bagi
Pemda DKI Jakarta
dan stakeholder
terkait?
Dari berbagai sumber data yang dihimpun, didatangkan 21 unit mobil pemadam kebakaran dan 105 tim pemadam kebakaran yang turun langsung memadamkan api. Jelas di kawasan ini tidak ada Tim Pemadam Internal karena bangunan gedung yang terbakar hampir semuanya non permanen dan memiliki bahan bangunan gedung yang mudah terbakar.

 

Beberapa hal yang perlu dicermati:
1. Apakah bangunan
gedung yang terbakar
memiliki kondisi
bangunan gedung yang
permanen dan
memenuhi persyaratan
kelaikan bangunan
gedung? Hal ini
terpikirkan karena
mencermati kondisi di
lapangan, bangunan
gedung yang terbakar
memiliki bahan
bangunan yang rentan
bahkan mudah
terbakar.
2. Apakah area yang
terbakar jelas
peruntukannya untuk
berdagang?
3. Pengamatan di
lapangan, banyak
bahan yang berpotensi
terbakar pada elemen
bangunan gedung
yang terbakar.
4. Tidak ada “awareness
of fire safety” dan
tidak ada tim
pemadam kebakaran
internal.
5. Tim Pemadam
Kebakaran DKI
Jakarta sulit
mencapai lokasi
untuk melakukan
pemadaman.

 

Rekomendasi bagi Pemda dan stakeholder terkait:
1. Yang terutama lebih
dulu, seharusnya ada
kesadaran pemilik
maupun penghuni
bangunan gedung
terhadap persyaratan
kelaikan bangunan
gedung yang mampu
mencegah kebakaran.
Kalau memang rentan
terhadap kebakaran,
segera optimalkan
kondisi bangunan
gedung. Tingkatkan
benar “Budaya
Keselamatan
Terhadap Kebakaran”
2. Pemda DKI Jakarta
harus mengevaluasi
peruntukan bangunan
gedung secara khusus
di Jakarta Timur dan
wilayah lainnya.
3. Pemda harus tegas
menindak bangunan
gedung yang tidak laik
(peruntukan,
keandalan, perijinan,
dll)
4. Pemilik bangunan
gedung khususnya
perbelanjaan wajib
melengkapi bangunan
gedung dengan sistem
proteksi kebakaran
5. Pengelola bangunan
gedung perlu
mencermati kawasan
sekitar site yang
berpotensi menerima
dampak kebakaran.
Hindari bangunan
gedung yang terlalu
rapat yang
memudahkan lintasan
jilatan api saat
terbakar. Jarak antar
bangunan gedung dan
batas antar bangunan
gedung merupakan
“compartmentation”
yang mencegah
pertumbuhan api antar
ruang.
6. Para penghuni harus
lebih waspada dan
selalu siap terhadap
potensi kebakaran.

Cegah kebakaran saat ini juga. Tingkatkan “Budaya Keselamatan Terhadap Bahaya Kebakaran”. Jangan ditunda……

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *