Kenangan Tak Terlupakan di Reuni 212

 

Kenangan tak terlupakan di Reuni 212….

Jakarta,pada saat Reuni 212 tanggal 2 desember 2018 kemarin saya coba menulis kenangan yang tak terlupakan dari event akbar tersebut,saya bukanlah alumni 212 karena saat 212 digelar tahun 2016 saya berada di singapura bersama kawan-kawan dari yayasan berdaya,saat itu saya memantau dari Televisi dan medsos serta berita lewat Whatshapp,melihat dari group WA saat itu aja, saya dibuat merinding karena jumlah jamaah mulai jam 09.00 malam sudah mengalir memenuhi jalan thamrin dan sudirman jalan beriring iring menuju istiglal dan monas dengan mengumandangkan takbir dan sholawat…

Dalam benak saya saat itu rugi tidak ikut sodara-sodara kita yang berjihad melawan ketidak adilan dan isue penista agama.

Tanggal 2 desember 2018 saat reuni 212 minggu lalu, saya tidak menyia nyiakan kesempatan untuk hadir di momentum reuni akbar tersebut,tanggal  1 desember pagi saya bersama istri lagi sarapan di kawasan Ir juanda, sarapan soto madura langganan kami,dan disitulah terbesit meniatkan kami mencari hotel untuk menginap agar kita pagi-pagi bisa ikut sholat tahajud dan subuhan agar tidak terlambat…

Mulai lah istri mencari hotel lewat traveloka…dan ternyata semua hotel dikawasan menteng,sabang dan area thamrin semua penuh….hanya beberapa hotel bintang 5 yang masih menyisakan sedikit kamar,coba lagi coba lagi…

Akhirnya Allah mendengar niat dan doa kami,kami dapat satu kamar terakhir di hotel Oria di jalan.wachid hasyim dekat sabang…

Dan lewat traveloka ternyata dapat discount 90ribu…alhamdulillah…dalam benak saya…Allah telah memudahkan niat kami untuk mengikuti reuni 212.

Kami langsung pulang untuk mengambil baju muslim dan peralatan sholat…kami cek in sekitar jam 9 malam karena kami masih  mengikuti beberapa acara….setelah cek in kami berusaha tidur dan jam 01.00 kami bangun dan berangkat ke monas…

Saya pikir kami semua berangkat jam 02.00 pagi agar bisa mencapai pangggung di monas….ternyata akan masuk ke area monas aja sudah sesak dan penuh jamaah…kami semua tidak bisa masuk ke area panggung padahal kawan kami semua termasuk bang Iwan Piliang sudah menunggu disana.

Didekat pinggir rumput monaslah kami bersama kawan kami yunianto dan istrinya Filda serta Doddy Toisuta menggelar sajadah dan mulai sholat tahajud dilanjut witir dan doa qunut yang panjang sampe tidak terasa air mata mengalir deras…

Ya Allah kekhusukan sholat ini sama saat saya di medinah atau di mekkah…kembali saat sholat subuh…doa Qunutpun mengalirkan air mata tanda khusuk…

 

 

.Allahu Akbar….tanda tanda  kebesaran dan kemuliaan Allah telah turun di monas… Setelah subuh saya ingin keluar dari monas ke tengah…karena dalam pikiran saya pasti sesak kalo keluarnya barsamaan…ternyata saya keluar hampir gak bisa…saya harus melangkahi disela sela shaf jamaah yang masih duduk dengan tertib…hampir 1 jam saya keluar dari  area monas…

Saya merinding dan terharu.. bathin saya begitu banyaknya jamaah ini….luar biasa…saya melihat senyum-senyum bahagia dari mereka…anak-anak kecil sampai orang tua…menggelar tikar dan makan minum sambil mendengarkan tauziah dari para habieb dan ustad dari panggung….sayang sound sistem agak kurang bagus….sehingga tidak terdengar jelas suaranya….ini pun para mujahid tetap tertib mendengarkan ceramah dengan khidmat…

Sepanjang mata memandang ratusan bahkan jutaan jamaah saya lihat saling tegur sapa penuh kedamaian…sepanjang jalan ada ibu-ibu dan anaknya menawarkan makanan,minuman gratis…ada juga yang berjualan topi,bendera dan atribut kalimat tauhid dll

Suasana bener-benar seperti di medinah dan mekkah….bahkan lebih banyak saat wukuf di padang arafah…
Kami berhenti di depan area monas karena memang sudah tidak bisa berjalan lagi…kita terhenti di penjual nasi goreng…tanpa berpikir panjang lagi kami bertiga dengan kawan kami Doddy Toisuta menyantap sarapan nasi goreng disitu…sambil menunggu jamaah reda…ternyata semakin siang jamaah semakin padat datang dari segala penjuru menuju monas…

Akhirnya tepat jam 08.00 pagi kami berusaha keluar dari kawasan monas menuju ke thamrin…kamipun bergerak melawan arus dengan jamaah yang menuju monas….selama 2 jam kami akhirnya nyampe juga di area sarinah dan kita berhenti ngopi di starbuck sampe pulang jam 11.00 siang…

Sampe hari ini ,saya masih belum bisa melupakan kejadian reuni 212 ini…saya ga bisa lupa akan ukhuwah islamiyah yang terjadi…orang berjumpa di satu titik hanya untuk menunjukkan suasana bathin yang sama…yaitu islam itu indah,islam itu sejuk dan islam itu damai. Sekian. (WIBISONO).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *