KPK KIAN RADIKAL

*KPK KIAN RADIKAL*

Oleh: *Sulaisi Abdurrazaq*
(Ketua YLBH Madura & Wasekjen DPP LPKAN Indonesia)

 

 

*“ANJING* paling mungil menggonggong paling keras”, Mark Minson tak menyebutkan sumbernya, _“The Subtle Art of Not Giving a F*ck”_ yang ia tulis hanya bilang itu ungkapan di Texas, menarik, karena KPK tak seperti itu, ia tak perlu meyakinkan kita kalau ia galak, KPK tidak sedang beriklan, melainkan sedang bekerja.

Jatim darurat korupsi, tapi tak lantas tenggelam dalam gelap, justru sedang berusaha melampaui batas-batas imajinasi, mencari cahaya di tengah kegelapan, itu yang dilakukan KPK.

KPK “makan buburnya” dari sisi Tulungagung, Ketua DPRD Supriyono dulu, karena diduga terima uang 4,88 miliar dari Syahri Mulyo, Bupati Tulungagung periode 2013-2018 agar pembahasan, pengesahan dan pelaksanaan APBD dan APBD-P 2015-2018 mulus, lalu berkembang pada Budi Setiawan (Kepala BPKAD Jatim) dan sepuluh orang anggota DPRD Tulungagung.

Aku tercenung sejenak, membaca pesan _WhatsApp_ di grup *KAHMI FROM MADURA*, Muhlis Ali, senior “agak nakal” yang nyentrik, santai bisa resmi bisa, menebar kuriositas, karena link berita di www.rmoljatim.com yang ia _share_ bertajuk: *Nasib Soekarwo Ada di Tangan Ajudan* menjadi penanda KPK kian radikal, itu yang kita suka dari KPK, tuntas hingga ke akar-akarnya, tak seperti *Skandal Bellezza* yang menyebalkan.

Radikal disini tak ada korelasi dengan radikal-isme, karena radikal-isme kerapkali berkonotasi ekstrem dan negatif, sementara radikal dalam konteks ini bermaksud menggambarkan kinerja KPK yang total dan kolosal hingga ke titik terdalam, rumah Kadishub Jatim Fattah Jasin ikut digeledah, nasib bubur panas kian terang, mantap.

Lebih mantap lagi kalau KPK berani sentuh pemain Sumenep Super Mantap yang sebabkan kerugian uang negara di BUMD Sumenep, hingga ke otak-otaknya, jangan kelas terinya aja, masak ia, KPK beraninya hanya cokok elit Bangkalan, Sampang dan Pamekasan, Sumekar malah dibiar-gigit pada Kejari Sumenep, kurang asik.

Kejari Sumenep tak suka banding jika perkara korupsi diputus ringan, vonis korupsi renovasi pasar Pragaan dengan terdakwa Baburrahman dan Andriyanto putus satu tahun, vonis penyelewengan Raskin Guluk-Guluk Sumenep terhadap Ikbal, Kades Guluk-Guluk putus satu tahun, tak ada beda putusannya dengan *Skandal Bellezza* yang menyeret Sitrul dan Taufadi, ditangan Kejari Sumenep koruptor beruntung, karena vonisnya selalu spesial, satu tahun.

Selain spesialis satu tahun Kejari Sumenep tak suka menyeret pelaku secara tuntas, meski jelas PT. GMA MI terima transfer duit panas _*Participacing Interrest*_ Migas dalam kasus PT. WUS, Kejari Sumenep tak mengembangkannya, apalagi tuntutan JPU suka ringan, susah temukan tuntutan terhadap terdakwa korupsi Sumenep di atas lima tahun, selalu saja di bawah dua tahun, wajar saja publik curiga eksaminasi internal Kejaksaan tak jalan, tak perlu lagi anggaran untuk itu.

Melihat kenyataan itu, tak perlu komparasi terlalu jauh, melihat cara KPK tangani perkara korupsi dibanding Kejari tak butuh _tabayun_ terlalu lama, pasti kita simpulkan KPK jauh lebih radikal dari Kejari, percaya nggak?

*Pamekasan*, 12 Agustus 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *