Pembina LPKAN Wibisono: Utang Negara Sudah Mengkawatirkan,Apa Solusinya?

Pembina LPKAN (Lembaga Pengawas Kinerja Aparatur Negara) Wibisono,SH,MH

 

Jakarta, Berdasarkan data yang dipublikasikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Kita periode Oktober 2018, menunjukkan bahwa dalam kurun waktu satu tahun pemerintah menambah utang sebesar Rp 584,9 triliun.

Dikutip dalam laman resmi Kementerian Keuangan (17/11/2018), utang tersebut terdiri dari pinjaman sebesar Rp 833,9 triliun dan utang dalam bentuk Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 3.644,6 triliun.” saat ini Utang Luar Negeri Indonesia Bengkak Jadi Rp 5.397 Trilyun, ini sangat mengkawatirkan”, ujar Pembina LPKAN (Lembaga Pengawas Kinerja Aparatur Negara) Wibisono,SH,MH menjawab pertanyaan wartawan di jakarta (18/7/2019).

Mengutip data statistik utang luar negeri (SULNI) Bank Indonesia (17/7/2018), Singapura menjadi negara nomor satu yang paling sering memberikan Indonesia utangan pada Mei 2018.

Berikut 5 negara yang memberikan utang terbesar ke Indonesia, per Mei 2018:

1. Singapura sebesar US$ 55,28 miliar
2. Jepang sebesar US$ 29,13 miliar
3. China sebesar US$ 16,5 miliar
4. Amerika Serikat sebesar US$ 15,2 miliar
5. Hong Kong sebesar US$ 12,9 miliar.

Secara total, pinjaman yang diterima pemerintah, bank sentral, maupun sektor swasta yang berasal dari negara-negara mencapai US$ 182,3 miliar.

Wibisono mengatakan Selain dari negara, Indonesia juga mendapatkan utangan dari sejumlah organisasi internasional. Per Mei 2018, total pinjaman yang diterima pemerintah, bank sentral, maupun sektor swasta dari organisasi internasional mencapai US$ 31,3 miliar, paparnya

Berikut 5 (lima) organisasi internasional yang memberikan utang terbesar ke Indonesia:

1. International Bank for Reconstruction and Development (IBRD) sebesar US$ 16,8 miliar,
2. Asian Development Bank (ADB) sebesar US$ 9,15 miliar,
3. International Monetery Fund (IMF) US$ 2,80 miliar
4. International Development Association (IDA) US$ 1,28 miliar
5. Islamic Development Bank (IDB) US$ 933 juta.

 

Apa Solusi untuk membayar utang?

Menurut Menteri Keuangan, Sri Mulyani, utang dilakukan ketika pendapatan negara lebih kecil dari belanjanya. Tapi sebenarnya utang pun nggak masalah, asal digunakan untuk sesuatu yang produktif, jadi utang nggak membengkak.

Pernyataan Sri Mulyani ini tidak keliru,namun harus ada terobosan terobosan yang singnifikan,maka dari itu LPKAN Indonesia
merekomendasi 6 (enam) cara yang bisa kita lakukan buat bantu Indonesia melunasi utangnya.

1.Negara harus kembali ke Pasal 33 UUD’45,salah satunya adalah mengembangkan-meningkatkan sektor ini, dan menjadikan “Koperasi” menjadi soko guru perekonomian kita, karena Jepang menjadi negara besar dan maju karena peran Koperasi nya,saat ini koperasi menengah kebawah (UKM) justru bertahan dari goncangan krisis ekonomi dunia.

2.Seperti halnya Malaysia, kita juga bisa menggelar aksi galang dana untuk meringankan utang negara. Gerakan patungan yang dilakukan rakyat Malaysia ini awalnya dipelopori oleh praktisi hukum bernama Nik Shazarina Bakti. Ia membuat kampanye “Please Help Malaysia!” di situs GoGetFunding. Diketahui dari Detik, utang Malaysia saat ini mencapai 1 triliun ringgit atau 3,595 triliun rupiah. Sebelumnya, Perdana Menteri (PM) Malaysia, Mahathir Mohamad, juga sudah memotong gaji kabinetnya sebesar 10%,gerakan bisa dilakukan diIndonesia dengan catatan harus adanya Rekonsiliasi Nasional,kesadaran bersama untuk masa depan bangsa.

3. Membayar pajak tanpa manipulasi, dengan Penghasilan pajak ini, terutama import-eksport, pajak investasi dan lain lain,jangan malah pajak investasi di discount sampai 30 tahun. Ini aneh?, tax ratio sebagai indikator jumlah pembayar pajak di Indonesia masih berkisar 11%, rendah banget kan?

4.Kita Warga negara juga perlu rajin menabung dibank dalam negeri,terutama Para pengusaha besar rata rata taruh uangnya di bank asing,harus ada kesadaran menaruh dana didalam negari, Nantinya dana yang terkumpul bisa digunakan untuk meringankan ketergantungan kita dengan utang luar negeri.

5. Cara lain misalnya dengan menjalin kerjasama internasional dengan negara lain, nanti uang hasil kesepakatan itu bisa dipakai bayar utang dengan pola skema dana Hibah.

6. Mencari donatur luar negeri mungkin bisa jadi solusi lain. Kayak Bill Gates yang pernah bantu lunasi utang Nigeria ke Jepang sebesar Rp950 miliar!

Utang suatu negara tidak hanya bisa digunakan untuk membangun infrastruktur di negara tersebut, api juga bisa digunakan untuk hal lain, seperti memberantas wabah penyakit tertentu kayak yang dilakukan Nigeria. Pada 2014 lalu, Nigeria meminjam dana senilai Rp950 miliar ke Jepang untuk pemberantasan polio, melalui program Overseas Development Assistance (ODA). Setelah tahun 2017 Nigeria berhasil dinyatakan bersih dari polio, negara itu malah nggak bisa melunasi utangnya.

Bill Gates, pendiri Microsoft yang memang dikenal aktif dalam kegiatan filantropi itu, memutuskan untuk membantu Nigeria melunasi utangnya kepada Jepang. Dilansir Kompas, yayasan milik Bill Gates dan istrinya, telah membantu memerangi penyakit polio di seluruh dunia. India yang tadinya jadi gudangnya polio juga telah dinyatakan bersih dari wabah.

Solusi diatas bisa kita terapkan di Indonesia,asal ada kemauan yang serius dan komitmen yang tinggi dari Presiden dan kabinetnya untuk mensejahterakan rakyatnya serta mencari terobosan terobosan yang diluar kelaziman (sesuai ketentuan hukum UU yang berlaku), jangan seperti sekarang terkesan gali lobang tutup lobang,dan memakai dana dengan bunga yang tinggi untuk membangun Infrastuktur, makanya cadangan devisa kita bisa Kolaps, pungkas Wibisono.(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *