Penurunan Belanja Subsidi Energi Sangat Memberatkan Rakyat

Pengamat infrastruktur dan pelaku usaha Wibisono,SH,MH

Jakarta, Kementerian Keuangan akan memangkas anggaran subsidi energi pada rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (RAPBN) 2020.

Alokasi anggaran subsidi energi yang dipangkas meliputi Bahan Bakar Minyak (BBM), gas elpiji 3 kilogram, maupun listrik. Perubahan itu mengakibatkan anggaran subsidi energi turun Rp 12,6 triliun menjadi Rp 124,9 triliun dari sebelumnya Rp 137,5 triliun.

Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani, perubahan dilakukan atas kesepakatan hasil pembahasan dengan Banggar DPR, dengan rincian subsidi BBM turun Rp 115,6 miliar dan subsidi LPG turun Rp 2,6 triliun.

Kemudian, ada penurunan kurang bayar kewajiban subsidi energi pemerintah tahun lalu sebesar Rp 2,5 triliun, sehingga total anggaran subsidi BBM dan LPG turun Rp 5,2 triliun. Lalu, ada penurunan anggaran subsidi listrik Rp 7,4 triliun.

Menkeu Sri menjelaskan, perubahan anggaran subsidi energi terjadi karena perkembangan ekonomi global, sehingga pemerintah perlu mengubah kembali asumsi makro yang sudah ditetapkan sebelumnya.
Misalnya, lanjut Sri, harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Oils Price/ICP). Menurutnyta, anggaran subsidi turun akibat penurunan asumsi ICP, lifting minyak dan gas, serta penurunan cost recovery.

“Kemudian, ada penajaman sasaran pelanggan golongan 900 VA untuk subsidi listrik,” ujar Sri Mulyani di Gedung DPR/MPR, Jakarta, Jumat (6/9/2019).

Menurut Pengamat infrastruktur dan pelaku usaha Wibisono,SH,MH menilai penurunan belanja subsidi energi akan menambah tantangan pemerintah dalam upaya mencapai target pertumbuhan ekonomi tahun depan sebesar 5,3%.
Pasalnya, pemerintah menyebut konsumsi rumah tangga dan investasi akan menjadi tumpuan utama pertumbuhan tahun depan. “Kalau mau mengandalkan konsumsi rumah tangga, ini kontraproduktif dengan menurunkan harga subsidi karena tidak mendukung daya beli masyarakat,” ujar wibisono menyatakan ke awak media dijakarta (7/9/2019)

Lanjutnya secara porsi, konsumsi 40% masyarakat golongan berpendapatan rendah menyumbang 17% terhadap keseluruhan konsumsi rumah tangga. Sementara, 60% masyarakat golongan berpendapatan menengah dan atas berkontribusi 83% terhadap total konsumsi rumah tangga,ulasnya.

Meski pengurangan subsidi energi paling berdampak pada 40% golongan berpendapatan rendah yang kontribusinya kecil terhadap total konsumsi, ini tetap mempengaruhi pertumbuhan konsumsi rumah tangga secara keseluruhan.

Belum lagi, jika harga minyak mentah tahun depan bergejolak dan mengarah naik, tekanan yang dihadapi masyarakat golongan berpendapatan rendah akan semakin besar. “Harus diingat bahwa faktor penentu harga minyak mentah itu tidak hanya suplai dan permintaan, tapi juga faktor geopolitik yang bisa muncul kapan saja,” tutur wibi.

Hal ini diperkirakan tidak akan cukup, karena didorong oleh faktor naiknya harga minyak mentah dunia dan terjadinya pelemahan rupiah.

Terkait hal tersebut, jika anggaran untuk subsidi energi dikurangkan, hal ini dinilai akan berdampak kepada Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Karena, baik itu PLN maupun Pertamina yang akan menanggung kerugian ataupun selisih harga untuk premium, solar, LPG 3kg, sampai dengan TDL.

“Anggaran untuk subsidi ini harusnya dipertahankan, bahkan kalau bisa seharusnya ditambah. Karena sudah terlalu besar yang ditanggung ke dua BUMN ini. Tetapi, kalau pun memang tidak bisa ditambahkan, seharusnya dengan kondisi yang seperti sekarang ini tidak dikurangi, paling tidak sama lah dengan anggaran tahun ini,” ujar wibi.

Di sisi lain, ditengah rencana pemerintah untuk mengurangi anggaran subsidi energi, sampai dengan tahun 2020 pemerintah juga belum berencana untuk menaikkan harga dari barang-barang yang masuk dalam kategori public service obligation.

“Kalau memang seperti
ini, di tengah kondisi harga minyak mentah terus mengalami kenaikan, dan rupiah yang lemah terhadap dollar AS. Saya kira untuk anggaran tahun 2020 tidak akan cukup, apalagi dengan tingkat masyarakat Indonesia yang tergolong konsumtif energi, jadi ini akan agak berat jika anggarannya dikurangi,” pungkasnya.
[7/9 06.56]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *