Selamatkan PPP Lewat Muktamar Luar Biasa?

Selamatkan PPP Lewat Muktamar Luar Biasa ?

Oleh: M. Harun*)

Pernyataan sekjen PPP kubu Romy , Asrul Sani yang menyatakan permintaan maaf (teropong Senayan.com, 22/4/2017) kepada warga PPP karena mendukung Ahok pada pilkada DKI Jakarta putaran kedua kemarin sbg pendidikan politik yang salah. Seorang tokoh partai islam dengan mudahnya mendukung cagub non muslim lalu minta maaf kepada konstituennya karena cagub yg didukung gagal.

Bisa jadi jika cagub yg didukung itu sukses terpilih PPP akan kebagian kue politik dan semua elitnya akan kekeuh dukung Allout tanpa mendengar lagi aspirasi kader dan warganya di akar rumput. Tp karena kalah mereka minta maaf .

Saya melihat cara dan perjuangan politik yg demikian berbahaya yg dipertontonkan elit PPP baik kubu Romy maupun Djan Faridz , memuakkan dan tak berkualitas.

Di awal berdirinya PPP saya dulu pendukung fanatik. Tapi kian lama perilaku elit PPP kian lembek dlm membawa aspirasi ummat Islam dlm politik di negeri ini. Citra buruk partai Islam semakin tampak jelas saat ketua umum PPP Surya darma Ali (SDA) dipenjara kpk karena terlibat korupsi haji.

Dalam hal ini kemungkinan PPP msh bangkit dan kepercayaan ummat masih ada karena PPP msh sbg partai Islam yg konsisten dg amar makruf nahi mungkar sesuai ad/art partai , ummat msh berharap partai warisan ulama ini akan melewati masa masa kelam dan bangkit.

Apa yg terjadi di era pemerintahan Jokowi-JK ini PPP mengalami perpecahan dg dualisme kepemimpinan yakni kubu Djan Farid dan kubu Romy rohurmusy hingga jelang Pilkada DKI Februari 2017.

Warga PPP SDH terpecah memberi dukungan karena PPP Romy dukung Paslon no. 1 Agus Hary Murti Yudhoyono – Sylviana murni sedangkan Djan Faridz dukung Paslon no. 2 Ahok- Djarot . Ummat PPP khususnya kubu Romy saat itu msh sedikit ada harapan Krn mendukung cagub muslim.

Tapi apa hendak dikata di pilkada putaran kedua elit PPP mendukung Paslon no. 2 yg notabene non muslim yg mayoritas ummat menolaknya. Kedua kubu PPP kompak dukung Ahok Djarot tanpa menghiraukan konstituen ummat di tingkat akar rumput.

Tanpa mempedulikan seruan ulama dari seantero Nusantara yg menolak cagub non.muslim yg jelas jelas menistakan agama. Tentu saja ummat Islam terpeca apalagi warga PPP yg sempat terombang ambingkan oleh para elit partai.

Kini realitas politik telah memenangkan gubernur muslim Anies sandi no. 3.

 

Lantas, elit PPP minta maaf KPD konstituennya . Dengan begitu mudahkan kader dan warganya PPP akan memaafkan perbuatan elitnya tersebut? Ataukah harus digelar muktamar luar biasa (MLB,) sebagai wujud menyelamatkan partai dari perilaku para elit PPP yang tak konsisten ? Ini terpulang KPD semua warga PPP sendiri .

Penulis: Ketua Forum Pengembangan Pewarta Profesional Indonesia (FP3i).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *