SEMANGAT MEMBANGKITKAN ETOS KERJA DENGAN MERUBAH TANTANGAN MENJADI PELUANG

 

 

Ditulis oleh : Wibisono.

 

 

 

 

Tantangan Yang Dihadapi.

Jakarta, Ibu Kota Negara Kesatuan Republik Indonesia, kondisinya semakin rapuh oleh berbagai permasalahan, seperti banjir, kemacetan, sampah dan kekumuhan. Rangkaian persoalan itu bukan lagi hanya bersifat kasuistik, melainkan juga telah menjadi fenomena permanen yang mengancam Jakarta untuk jangka panjang, terlebih lagi jika tidak segera diambil langkah-langkah terobosan. Apa yang tampak pada permukaan sebagai fenomena, seperti banjir dan kemacetan, sesungguhnya menggambarkan kompleksitas dan realitas permasalahan yang berlapis-lapis dan berakar jauh dalam sejarah kebijakan penguasa dan perilaku semua pemangku kepentingan di Ibu Kota dan sekitarnya.

Adalah penting mencari akar persoalan yang mengepung Jakarta, akan tetapi jauh lebih penting mengidentifikasi program nyata yang diperlukan untuk sebuah terobosan yang berbasis pada visi yang berjangkauan jauh ke depan. Semakin sering terdengar pertanyaan, apa dan bagaimana yang akan dilakukan oleh para pemangku kepentingan, terutama Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi DKI, dalam upaya menjadikan Jakarta sebagai Ibu Kota yang aman dan nyaman secara sosial dan lingkungan.

Terlebih lagi persoalan banjir dan kemacetan bukanlah persoalan baru yang muncul dalam satu atau dua tahun terakhir, melainkan sudah bersifat kronis.

Sangatlah ironis, sebagaimanan sering diangkat, kemacetan dan banjir berada di depan mata para petinggi negara, para menteri, anggota parlemen, pebisnis dan akademisi, akan tetapi mereka terkesan tidak tergerak untuk melakukan tindakan terpadu guna membebaskan Jakarta dari kepungan banjir dan kemacetan.

Jangan-jangan sikap tidak perduli telah menguasai hati dan pikiran semua pemangku kepentingan di Ibu Kota ? Sama halnya dengan persoalan kultural yang terikat kuat pada perilaku yang tidak perduli terhadap lingkungan. Sampah masih saja dibuang di sembarang tempat, yang boleh jadi merefleksikan kebiasaan dan budaya membuang sampah ketimbang mengelola sampah.

Semestinya setiap tantangan dapat menggerakkan tindakan untuk melakukan terobosan, akan tetapi selama bertahun-tahun hal itu tidak terlihat jelas dalam kasus Jakarta. Sekiranya tidak ada terobosan, bencana lebih serius akan mengancam Jakarta. Tentu saja terobosan tidak seperti membalikkan telapak tangan, tetapi bagaimanapun perlu langkah konkrit sebagai isyarat awal bagi perbaikan untuk menjaga agar harapan tidak sirna.

Berbagai tantangan yang dihadapi Jakarta :

Ada 2 permasalahan pokok dan kronis di Ibu Kota Jakarta yaitu Bencana Banjir dan Kemacetan Lalu Lintas.Sungai sebagai saluran air terbuka di tengah kota sering lebih cepat menjadi rusak kondisinya, yaitu menjadi lebih sempit dan menjadi dangkal, selain diakibatkan oleh adanya sedimentasi juga diakibatkan oleh perilaku masyarakat yang sering membuang sampah sembarangan langsung ke dalam sungai tersebut.

Cara perbaikan dengan normalisasi mengandung resiko terjadinya kembali kerusakan sungai tersebut setelah normalisasi apabila tidak ada upaya pencegahan terhadap perilaku buruk masyarakat dalam membuang sampah tadi serta pemeliharaannya tidak memadai.Disisi lain, dalam hal pelaksanaan pembangunan infrastruktur, terdapat 2 hal pokok lagi yang sering menjadi kendala, yaitu menyangkut soal Pendanaan dan Pembebasan Lahan.

Selain dari itu masih terdapat masalah lain yang tidak kalah pentingnya yaitu bahwa Beban Kota Jakarta sudah sedemikian beratnya sehingga sudah melebihi kapasitas Daya Dukung Kota itu sendiri. Konsekuensinya adalah bahwa Jakarta ke depan membutuhkan adanya tambahan pasokan listrik dan air minum yang cukup besar untuk bisa memenuhi kebutuhan dasar standar yang terus berkembang bagi suatu kota megapolitan.Tantangan klasik yang sering kita dengar yaitu bahwa Pemerintah hanya bisa membangun akan tetapi tidak bisa memelihara juga berlaku bagi Jakarta.

 

 

JIT, Solusi Yang Juga Menjadi Peluang.

 

 

Konsep Jakarta Intergrated Tunnel (JIT)merupakan jawaban atas semua permasalahan yang menjadi tantangan di atas dan sekaligus juga menjadi peluang karena bisa memberikan satu solusi konkrit terpadu dengan manfaat yang sedemikian banyaknya..

JIT merupakan solusi terpadu untuk mengatasi banjir akibat luapan air Sungai Ciliwung dan akibat luapan air Sungai Pesanggrahan serta sekaligus juga menambah rasio luasan jalan di Jakarta sebagai salah satu upaya untuk mengurai kemacetan lalau lintas pada koridor tertentu di Jakarta dan dalam hal ini koridor lintas Utara – Selatan.JIT adalah saluran tertutup sehingga resiko masyarakat untuk membuang sampah ke dalamnya menjadi tidak ada. Resiko pengendapan atau sedimentasi bisa dikendalikan di awal / ujung masuk saluran dengan membuat bangunan penangkap lumpur dan bangunan penangkap sampah.

Pemeliharaan dalam saluran tertutup relatif mudah untuk dilakukan karena saluran ini berdiameter sangat besar yaitu sekitar 13 meter.JIT berupa konstruksi terowongan di bawah tanah dapat mengatasi tantangan kendala pembebasan lahan secara signifikan jika dibandingkan dengan konstruksi yang dibangun di atas dan/atau di permukaan tanah. Suatu sistem yang berfungsi untuk pengendali banjir, berdasarkan teori ekonomi neo klasik, sebagai barang publik pembiayaannya menjadi tanggung jawab pemerintah yaitu menggunakan dana publik juga. Tidak/belum pernah ada sektor/pihak swasta yang mau membangun dan mengoperasikan serta memelihara suatu fasilitas pengendali banjir selama ini karena fasilitas semacam ini tidak bisa memberikan hasil untuk pengembalian modal yang ditanamkan.

JIT merupakan terobosan untuk mengatasi tantangan ini dengan cara mencangkokan atau mengintegrasikan fasilitas pengendali banjir dengan fungsi jalan tol di dalam satu terowongan yang sama. Selain bisa menarik pihak swasta untuk masuk, karena ada pemasukkan dari jalan tolnya, juga bisa mengurangi beban investasi pemerintah secara signifikan karena adanya pengalihan beban / sebagian beban kepada pihak swastanya. Tidak hanya biaya investasinya saja bahkan beban pengoperasian dan pemeliharaannyapun bisa dialihkan kepada pihak swasta tersebut.

Pada JIT, aliran air sungai dimanfaatkan untuk membangun Pembangkit Tenaga Listrik Mikrohidro dan air sungainya dimanfaatkan sebagai pasokan air baku untuk air minum Jakarta karena airnya di ambil dari sisi hulu sungai yang masih tidak/belum tercemar oleh kampung-kampung yang belum dilewatinya..

Dengan konsep ini, JIT selain tidak membebani pasokan listrik PLN Jakarta yang sudah ada, adalah juga dapat menciptakan peluang untuk menghasilkan pemasukkan tambahan dari penjualan listrik dan air minum guna mengatasi dan menutup biaya operasi dan pemeliharaan fasilitas pengendali banjir tersebut sepanjang masa konsesinya yaitu selama 45 tahun sejak dioperasikan.

Singkatnya JIT merupakan fasilitas/bangunan publik yang seharusnya dibiayai oleh dana publik (APBN/APBD) baik investasi maupun pengoperasian dan pemeliharaannya namun dengan konsep Kerjasama Pemerintah dan Swasta (KPS) maka beban biaya APBN/APBD tersebut bisa dikurangi dan dilimpahkan secara signifikan kepada sektor swasta. Dengan arti kata lain, pada konsep JIT, Pemerintah bisa membangun dan bisa (mampu/sanggup) pula memeliharanya..

JIT merupakan jawaban dan solusi cerdas atas tantangan klasik selama ini yang selalu menyatakan bahwa Pemerintah hanya bisa membangun akan tetapi tidak bisa memelihara.(Wibisono) .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *