Pengamat Militer Wibisono : 23 Proyek OBOR Yang di tanda tangani Indonesia-China Wujud Perang Asimetris

 

 

Pengamat Militer Wibisono,SH, MH

 

Jakarta ,Bentuk Perang Asimetris diantaranya melalui mengubah kebijakan negara sasaran dengan ciri non kekerasan, ” saya sejak tahun 2004 telah menulis tentang ancaman Perang Modern dari AS,Tapi sekarang Ancaman Perang Modern atau Perang Asimetris justru Dari China”, ujar Pengamat militer dan Pembina LPKAN (Lembaga Pengawas Kinerja Aparatur Negara) Wibisono menyatakan ke media di jakarta (10/7/2019)

Pertanyaannya? “Bagaimana modus Perang Asimetris yang sudah dilakukan oleh China saat ini?, tanya Wibisono.

Saat ini China mengalami masa transformasi dan konvergensi ke arah kapitalisme yang melahirkan
‘One Country and Two System’, yakni sistem negara dengan elaborasi ideologi sosialis/komunis dan kapitalis.
Dengan kata lain, model perekonomian boleh saja bebas sebagaimana kapitalisme berpola mengurai pasar, namun secara politis tetap dalam kontrol negara cq Partai Komunis China. pengusaha boleh didepan membuka ladang-ladang usaha diluar negeri, tetapi ada “back up” militer (negara) dibelakangnya, ini yang terjadi pada proyek OBOR, papar Wibi.

Itulah titik poin konsepsi “One Country and Two System” yang kini tengah dijalankan oleh China di berbagai belahan dunia.

China dalam menerapkan reformasi politiknya, akan menerapkan tangan besi terhadap rakyatnya, sangat keras, tegas, bahkan tanpa kompromi demi stabilitas internal negeri. Sebaliknya ketika China melangkahkan kaki keluar, tata cara diubah menerapkan cara simpatik, dalam bentuk
Menebar investasi atau “bantuan dan pinjaman lunak” dalam wujud pembangunan gedung-gedung, pertambangan,infrastruktur dan lainnya, tentunya dengan persyaratan “tersirat” yang mengikat.

Pendekatan ini merupakan ruh atau jiwa pada model “perang asimetris” yang sering dikerjakan oleh China.

Dalam proyek ‘Turnkey Project Management’, adalah sebuah model “investasi asing” yang ditawarkan dan disyaratkan oleh China kepada negara tertentu dengan jaminan oleh negara tersebut.

Mulai dari ‘top management’, pendanaan, materiil dan mesin, tenaga ahli, bahkan metode dan tenaga (kuli) kasarnya di ‘dropping’ dari China.

Modus Turnkey Project ini relatif sukses dijalankan di Afrika sehingga warganya migrasi besar-besaran bahkan tak sedikit yang menikah dengan penduduk lokal. Mereka menganggap Afrika kini sebagai tanah airnya kedua.

Beberapa investasi China di Indonesia, sebenarnya telah menerapkan modus ini. Memang bukan barang baru, karena sejak dulu sudah berjalan antara lain :
Pembangunan pembangkit tenaga listrik di Purwakarta, hampir semua tenaga kerja mulai dari direksi hingga kuli bangunan didatangkan dari negeri China.

Demikian juga yang akan terjadi di Medan, China membawa sekitar 50.000 orang tenaga kerjanya dari China,dan di daerah sulawesi tenggara.

Bila investasinya di Medan saja mendatangkan sekitar 50.000-an orang, lalu berapa warga lagi bakal migrasi melalui investasi China pada 24 pelabuhan laut, 14 pelabuhan udara dan sekitar 8000-an Km jalur Kereta Api di Indonesia, selain rencana mempererat hubungan bilateral China – Indonesia lewat jalur sutera menargetkan pertukaran 10 juta warganya dalam berbagai bidang pada dekade 2020 an nanti.

Rencana tersebut tentu berpeluang menimbulkan persaingan budaya antara warga China dengan pribumi. Bisa terjadi pertarungan untuk mempertahankan siapa lebih dominan, mengingat jumlah 10 juta jiwa itu bukan jumlah yang sedikit, ujar Wibi

Deng Xiao Ping mencetuskan ide ‘One State Two Systems” (satu negara, dua sistem) sehingga China yang dulunya adalah negara komunis berubah menjadi negara kapitalis (kapitalisme negara, state capitalism). China daratan sekarang ini berusaha melakukan hegemoni untuk menguasai dunia, bersaing dengan USA dan sekutu-sekutunya. Salah satunya melalui proyek OBOR (One Belt One Road) untuk menghidupkan kejayaan jalur sutra perdagangan dunia, dengan biaya 1 Trilyun USD (dari sekitar 28 T cadangan duit China).

Proyek OBOR dibangun di darat dan laut ke Eropa dan Amerika melalui berbagai negara di Asia Pasifik dan Afrika.

Salah satu jalur OBOR melewati Myanmar yang dari dulu dikenal sebagai jalur narkoba bagian dari segitiga emas narkoba di Asia (Burma, Laos, Thailand) sejak zaman Perang Candu. Saat ini saja kita lihat berton-ton narkoba masuk ke Indonesia dan mulai menyasar anak anak Sekolah Dasar, (Apa jadinya kalau jalur segitiga emas narkoba Asia Tenggara itu terintegrasi dengan jalur infrastruktur OBOR China?,imbuh Wibisono

Itulah mengapa Rohingya dibantai rezim junta militer Myanmar karena mereka sudah menjadi komprador dan bodyguard strategi global China melalui pembangunan infrastruktur, invasi dan investasi penguasaan Asia Tenggara. Pelabuhan internasional China akan dibangun di Myanmar yang punya akses laut ke Samudera Hindia, dan akan dilengkapi dengan jalur pipa gas. (Akses laut China selama ini harus melalui Laut China Selatan dan Selat Malaka).

Di samping itu banyak negara di Asia Tenggara yang sudah dikuasai China seperti Laos, Kambodia dan Malaysia. Banyak tanah di sekitar Kuala Lumpur yang sudah dikuasai China. China akan membuaat kota baru di negara-negara luar China sebagai ibukota China. Di Malaysia akan dibangun kota baru dilengkapi jalur KA ke Beijing via Johor Baru dengan anggaran Rp 500 Trilyun.

Fakta proyek Meikarta juga diproyeksikan sebagai kota baru untuk persinggahan warga Cina dengan anggaran Rp 278 T. Semua adalah proyek ekspansionis hegemonis China untuk menguasai negara-negara di Asia.

Wisatawan dari China yang datang ke Indonesia berkisar 20% dari keseluruhan 6,7 juta turis asing di Indonesia (2016). Kita tidak tahu apakah mereka itu pulang lagi ke negaranya atau stay di Indonesia. melalui populisme (paham yang mementingkan rakyat kebanyakan). Sejalan dengan program Yahudi 1776 dan Protokol Zionis 1842 dengan jargon ‘One State, One Society. One Globe, One Government’ (Satu negara, satu masyarakat. Satu dunia, satu pemerintahan).Yahudi akan menguasai dunia melalui penguasaan pasar, penguasaan keuangan dan penguasaan sumber daya alam (SDA).

Yahudi sudah lama menguasai dunia. Keluarga Rotschild saja menguasai aset 1 Trilyun USD. Ada 12 keluarga besar Yahudi menguasai asset dan tersebar di USA, Eropa dan Australia.

 

INDONESIA HARUS BERDAULAT

Indonesia harus berdaulat! Jangan mau dijadikan obyek ekspansi dan populisme negara lain. Tahun 2030 akan muncul ANCAMAN BESAR yaitu perebutan PANGAN dan ENERGI di seluruh dunia. Penguasaan pangan oleh perusahaan Israel di Indonesia dilakukan melalui Cargill. Penguasaan energi khususnya di Papua oleh negara-negara asing, terutama gas, minyak bumi, energi surya dan panas bumi. Banyak perusahaan Israel yang mengincar beberapa wilayah di jabar dan Banten.

China juga sudah ancang-ancang akan merebut perkebunan dan pertanian di Papua. Sudah ada banyak kontrak antara kepala kepala daerah dengan perusahaan perusahaan China.

Di Sulawesi Tenggara ada tambang nikel. 50% penumpang pesawat Jakarta-Kendari PP adalah orang-orang China. Uranium (bahan nuklir) dengan deposit besar ditemukan di Sulbar, Kalteng dan Papua. Indonesia akan menjadi PUSAT PERTARUNGAN sumber daya alam!

Jangan sampai Indonesia menjadi negara bermata uang China karena tak sanggup bayar utang ke China! Bisakah kita dengan tegas berkata seperti Perdana Mentri Malaysia Mahathir Muhammad yang membatalkan proyek OBOR disana, bahwa kita sudah mulai dijajah oleh Kolonial gaya baru, pungkas Wibisono
[10/7 08.53]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *