Wibisono: Abah Jatnika “Pakar Bambu” Satu satunya di Indonesia yang layak Menjadi Legacy buat Bangsa

Wibisono bersama Abah Jatnika Dan Dik Dik kusnadi di padepokan yayasan bambu Indonesia.

Jakarta, Duduk di rumah yang terbuat dari bambu, dikelilingi hutan bambu di atas lahan 11,5 hektare di Cibinong, Bogor, terasa nyaman.
Di sinilah tempat tinggal Jatnika Nanggamiharja ,pakar bambu yang sekaligus sebagai kantor Yayasan Bambu Indonesia. “Saya berkesempatan bisa silahturahmi dengan Abah Jatnika dan berdiskusi tentang filosofi bambu bagi bangsa dan negara Indonesia” ,ujar Pengamat Pangan dan militer Wibisono menyatakan ke awak media di jakarta (10/8/2019)

Menurutnya,sosok yang lahir 2 Oktober 1956 ini, yang biasa kita panggil Abah, ternyata mempunyai pemikiran yang jauh kedepan tentang nasib bangsa Indonesia,saya sendiri diperkenalkan oleh sahabat dari BNN kang Dik Dik Kusnadi yang mempunyai kesamaan visi misi, sehingga diskusinya pada sore ini sangat mengesankan.

Abah bercerita bahwa Yayasan Bambu Indonesia ini ada 42 spesies bambu. Kegiatan di sini adalah budi daya bambu dan museum bambu (tanamannya jadi museum), serta belajar senam Hijaiyah yang dikenal sebagai budaya asli Indonesia.

Selanjutnya untuk membangun satu rumah bambu dengan ukuran 30 meter persegi (paling kecil) dibutuhkan lima tenaga kerja, kalau di atas 50 meter persegi dikerjakan 10 orang, rata-rata selesai 2 bulan.

Untuk membuat satu rumah, dibutuhkan empat jenis bambu yaitu bitung, gombong, bambu tali, dan bambu hitam. Bambu hitam biasanya untuk dekorasi, yang paling banyak betung, bambu tali dan gombong.

Tumbuh dan besar di hutan bambu, hidup Jatnika Nanggamiharja (54) tak terpisahkan dari tanaman itu. Ia telah membangun lebih dari 3.000 rumah bambu di dalam dan luar negeri. Ia sisihkan keuntungan bisnisnya untuk penghijauan tebing sungai.

Di lahan seluas 5.000 meter persegi milik Yayasan Bambu Indonesia di Bumi Cibinong Indah, Bogor, Jawa Barat, Jatnika melatih tenaga ahli pembuatan rumah bambu. Mereka dibekali kemampuan olahraga bela diri

Pencak silat Cimande. Ilmu bela diri khas Jawa Barat ini memberi bekal kekuatan sehingga mereka mampu membangun rumah bambu yang ikatannya kuat dan tahan lama.

Jatnika telah melatih lebih dari 20 angkatan tenaga ahli bambu yang masing-masing terdiri atas 25 orang. Mereka dilatih untuk mampu mengikat kuat setiap bambu dengan sepuluh macam ikatan tali ijuk. Mereka sanggup merakit bambu betung, bambu gombong, bambu tali, hingga bambu hitam yang diameternya bisa mencapai 20 sentimeter.

Produk rumah bambu itu menjadi komoditas ekspor. Demi kualitas, Jatnika hanya menyanggupi dua permintaan ekspor rakitan rumah bambu knock down (bongkar pasang) per tahun. Proses pembangunan rumah bambu di luar negeri juga hanya dilakukan dengan tenaga ahli yang sudah dididik Jatnika. Permintaan ekspor rumah bambu, antara lain berasal dari Malaysia, Brunei, dan Arab Saudi.

Bambu berperan besar dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Sejarah mencatat, bambu digunakan para pemuda revolusioner untuk berjuang meraih kemerdekaan dari tangan penjajah. Bambu juga, dimanfaatkan sebagai alat praktik medis seperti sunat, dan sebagai alat musik di Jawa Barat. Dari bambu juga, Semarang memiliki makanan khas, lumpia, semacam rollade berupa perpaduan rebung, telur, dan daging ayam atau udang.

Bagimana penghargaan kita terhadap bambu saat ini?

 

Yayasan Bambu Indonesia dibawah asuhan Jatnika Nanggamiharja, sudah 23 tahun mengadvokasi konservasi bambu dan menjadikannya ekonomi handal. Namun, dalam perkembangannya, keberadaan bambu saat ini, selain persediannya menipis, potensi bambu juga belum mendapatkan perhatian penuh.

“Hambatan dalam industri bambu terkendala pada kurangnya bahan baku dan tenaga ahli. Karena, memang tidak ada sekolahnya. Sekalipun ada, (pendidikan) itu tak dekat atau bukan menjadi praktisinya,” tutur Jatnika.

Peranan sinergis antara peneliti, seniman, budayawan, perajin serta petani bambu sangat dibutuhkan untuk mengembangkan pemanfaatan bambu. Kerap ia temui, berbagai pihak jalan sendiri-sendiri. Semisal, berbagai seminar yang pernah ia ikuti cenderung fokus menelaah bambu dari segi akademis namun tidak pernah mempraktikkannya.

“Seminar tiga hari, bahas bambu biaya miliaran, hanya ngomongin caranya saja. Tapi, menanamnya nggak bisa,” ujar Jatnika seraya tertawa.

Rumah bambu buatan Jatnika sudah melanglang buana ke berbagai negara seperti Yordania, Arab Saudi, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Foto atas dan bawah: Rahmadi Rahmad/Mongabay Indonesia.

Peraih anugerah Kalpataru 2015 mulai menaruh perhatiannya pada pengelolaan sumber daya bambu sejak 1996. Awalnya, ia hanya memproduksi anyaman dan mebel bambu, namun lambat laun ia mengembangkan kemampuannya untuk membangun rumah bambu. Sekitar 3.441 rumah bambu yang tersebar di Indonesia berdiri berkat kemampuan arsitektur Jatnika. Dari bambu pun, ia sudah mengembangkan bisnisnya ke beberapa negara di luar Indonesia: Yordania, Arab Saudi, Malaysia, dan Brunei Darussalam.

Namun, sejak 2011 Jatnika mengubah orientasinya. Ia memutuskan untuk menghentikan ekspor rumah bambu ke luar negeri dan memilih memajukan bisnis bambu secara inklusif -melibatkan tenaga ahli dari Indonesia. Ia ingin Indonesia memiliki ketersediaan dan pengelolaan yang kokoh mengenai bambu.

Contohnya, dengan memiliki perkebunan bambu yang digunakan untuk industri. Menurutnya jika ingin membangun industri harus juga membuka lahan perkebunan agar tak merusak lahan rakyat. “Dulu saya berpikir bertindak global berpikir lokal. Tapi itu salah, saya sekarang mau bertindak lokal berpikir global. Biar dunia tahu bahwa bambu itu dari Indonesia,” ujar dia.

Cita-cita Jatnika kini terfokus untuk membangun infrastuktur yang semuanya berbahan dari bambu.
Pertama, ia tengah membangun Kampung Budaya Sunda di Cilember, Megamendung, Bogor, Jawa Barat.

Kedua, selain Kampung Budaya Sunda, Jatnika menjelaskan bahwa dia telah membangun sekolah bambu boarding school di Ciapus, Bogor. Ketiga, keinginannya adalah membangun kampung tradisional, resort skala internasional dan kebun raya bambu di Sentul.

“Saya ingin, kampung wisata ini menjadi tempatnya peneliti, seniman, budayawan, perajin, dan petan bersatu padu mengembangkan bambu,” ujar Abah

Dalam diskusi sepanjang hari ini,saya banyak ilmu yang didapat,antara lain ada kesamaan dalam misi dan Visi untuk membangun bangsa dan negara, terutama tentang jatidiri bangsa,kemandirian,dan ketahanan pangan yang diwujudkan dari tanaman “bambu” yang mempunyai nilai nilai Filosofis yang sangat Mulia demi bangsa, yang nantinya akan menjadi sumber O2 buat dunia,” beliau layak disebut tokoh-pakar bambu satu satunya di indonesia yang menjadikan bambu “legacy” buat bangsa,karena kepakaran inilah saya ingin merekomendasi Abah untuk mendapatkan Doktor Honoris Causa (HC) disalah satu perguruan tinggi di Indonesia “,pungkas Wibisono.(red).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *