Wibisono: Bangsa Indonesia Terjebak Perang Asimetris China

Pengamat Militer Wibisono,SH,MH

 

Jakarta, Akhir akhir ini telah terjadi perang dagang Antara China dan AS, ada juga “Perang Asimetris” atau “Perang Modern” merupakan metode peperangan gaya baru- tanpa alutsista, tetapi memiliki daya hancur tidak kalah hebat bahkan dampaknya lebih dahsyat dari perang militer.

Menurut Pengamat Militer Wibisono,SH,MH bahwa sasaran Perang Asimetris ini ada tiga, yaitu :
1. Membelokkan sistem sebuah negara sesuai arah kepentingan kolonialisme/kapitalisme.

2. Melemahkan ideologi serta mengubah pola pikir rakyat untuk berpindah ke ideologi lain.

3. Menghancurkan ‘food security’ (ketahanan pangan) dan ‘energy security’ (jaminan pasokan dan ketahanan energi) sebuah bangsa, selanjutnya menciptakan ketergantungan negara target terhadap negara lain dalam hal ‘food security and energy security’.

“Inilah yang akan terjadi pada negara kita”, kata Wibisono yang juga sebagai Pembina LPKAN (lembaga Pengawas Kinerja Aparatur Negara) menyatakan ke media di jakarta (8/7/2019).

 

Bentuk Perang Asimetris diantaranya melalui mengubah kebijakan negara sasaran dengan ciri non kekerasan

Pertanyaannya? “Bagaimana modus Perang Asimetris yang sering dilakukan oleh China saat ini?”,tanya Wibi

Saat ini China mengalami masa transformasi dan konvergensi ke arah kapitalisme yang melahirkan
‘One Country and Two System’, yakni sistem negara dengan elaborasi ideologi sosialis/komunis dan kapitalis.

Dengan kata lain, model perekonomian boleh saja bebas sebagaimana kapitalisme berpola mengurai pasar, namun secara politis tetap dalam kontrol negara cq Partai Komunis China. pengusaha boleh didepan membuka ladang-ladang usaha diluar negeri, tetapi ada “back up” militer (negara) dibelakangnya, ini yang terjadi pada proyek OBOR, papar Wibi

Itulah titik poin konsepsi “One Country and Two System” yang kini tengah dijalankan oleh China di berbagai belahan dunia.

China dalam menerapkan reformasi politiknya, akan menerapkan tangan besi terhadap rakyatnya, sangat keras, tegas, bahkan tanpa kompromi demi stabilitas internal negeri. Sebaliknya ketika China melangkahkan kaki keluar, tata cara diubah menerapkan cara simpatik, dalam bentuk :

Menebar investasi atau “bantuan dan pinjaman lunak” dalam wujud pembangunan gedung-gedung, pertambangan,infrastruktur dan lainnya, tentunya dengan persyaratan “tersirat” yang mengikat.

Pendekatan ini merupakan ruh atau jiwa pada model “perang asimetris” yang sering dikerjakan oleh China.

Dalam proyek ‘Turnkey Project Management’, adalah sebuah model “investasi asing” yang ditawarkan dan disyaratkan oleh China kepada negara tertentu dengan jaminan oleh negara tersebut.

Mulai dari ‘top management’, pendanaan, materiil dan mesin, tenaga ahli, bahkan metode dan tenaga (kuli) kasarnya di ‘dropping’ dari China.

Modus Turnkey Project ini relatif sukses dijalankan di Afrika sehingga warganya migrasi besar-besaran bahkan tak sedikit yang menikah dengan penduduk lokal. Mereka menganggap Afrika kini sebagai tanah airnya kedua.

Beberapa investasi China di Indonesia, sebenarnya telah menerapkan modus ini. Memang bukan barang baru, karena sejak dulu sudah berjalan antara lain :
Pembangunan pembangkit tenaga listrik di Purwakarta, hampir semua tenaga kerja mulai dari direksi hingga kuli bangunan didatangkan dari negeri China.

Demikian juga yang akan terjadi di Medan, China membawa sekitar 50.000 orang tenaga kerjanya dari China,dan di daerah sulawesi tenggara.

Bila investasinya di Medan saja mendatangkan sekitar 50.000-an orang, lalu berapa warga lagi bakal migrasi melalui investasi China pada 24 pelabuhan laut, 14 pelabuhan udara dan sekitar 8000-an Km jalur Kereta Api di Indonesia, selain rencana mempererat hubungan bilateral China – Indonesia lewat jalur sutera menargetkan pertukaran 10 juta warganya dalam berbagai bidang pada dekade 2020 an nanti.

Rencana tersebut tentu berpeluang menimbulkan persaingan budaya antara warga China dengan pribumi. Bisa terjadi pertarungan untuk mempertahankan siapa lebih dominan, mengingat jumlah 10 juta jiwa itu bukan jumlah yang sedikit, ujar Wibi.

Dengan fakta fakta diatas, maka bangsa Indonesia telah terjebak Perang Asimetris atau Perang Modern China,saat ini bukan hanya AS saja yang terjebak tapi akan merambah ke Asia dan Asia tenggara, termasuk di Indonesia karena kita sudah menandatangi 23 proyek OBOR di bulan maret 2019 yang lalu, apakah Bangsa ini akan terlilit hutang dengan China?,mari kita kawal bersama agar NKRI tidak tercerai berai-punah, pungkas Wibisono.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *