Wibisono: Membangun Bangsa dengan Menciptakan Banyak Entepreneurship Yang Handal

 

Pengamat infrastruktur dan Pembina LPKAN Indonesia Wibisono,SH,MH

 

Jakarta, Sebuah negara memiliki kesempatan untuk menjadi makmur-Sejahtera, jika ratio entrepreneur (pengusaha) minimal 2% dari Penduduknya, tapi saat ini ratio entrepreneur dibanding penduduk di Indonesia hanya 0,18 % saja, ujar Pengamat Infrastruktur dan Pembina LPKAN (Lembaga Pengawas Kinerja Aparatur Negara) Wibisono,SH,MH menyatakan ke media di Jakarta (2/8/2019).

Menurutnya masih jauh dari standart ratio entrepreneur minimal yang 2% dari Penduduk Indonesia dan masih jauh dari Amerika 11% dan negara tetangga seperti malaysia 5% serta Singapora 7%.

Oleh karena itu pemerintah harus memberi ruang seluas luasnya dan kesempatan yang sama bagi seluruh anak bangsa,terutama bagi pengusaha pribumi kecil-menengah, pergerakan pengusaha dengan basisnya harus tumbuh, “Saat ini masih ada aja regulasi atau kebijakan yang mempersulit pengusaha untuk maju”, kata Wibi, terutama untuk para generasi millineal agar pola pikirnya untuk berbisnis harus berubah,jangan lagi mengandalkan yang sudah ada tapi harus kreatif, inovatif merencanakan bisnis baru, imbuh pengusaha yang ulet ini.

Saat ini yang marak adalah Bisnis Online atau Bisnis Digital,yang mau tak mau harus dilakukan dengan cepat, sehingga pengusaha Indonesia dapat bergerak dengan cepat menyusul negara negara lain,tapi jangan lupa bisnis riil juga harus terus direvolusi terus,karena sektor rill juga sangat penting untuk pertumbuhan.

Sehingga kita bisa menaikkan tingkat kemakmuran yang tinggi dimana ratio entrepreneur 25% dapat tercapai pada tahun 2025.

Kalo kita tengok sejarah Mengapa nasib Indonesia yang dijajah Belanda, bukan Inggris?, Belanda membagi bagi masyarakat menjadi Eropa, Timur asing dan pribumi. Golongan Eropa merupakan kasta tertinggi yang menguasai sumber uang yaitu industri dan keuangan. Timur asing yaitu Tionghoa, Jepang, Arab dan Turki, menguasai dunia perdagangan perantara.

Sedangkan pribumi dibagi dua yaitu Priyayi (pegawai) dan tani- tukang. Akibatnya, bagi masyarakat pribumi menjadi priyayi yaitu pegawai negeri atau pejabat adalah tujuan utama (pikiran bawah sadarnya).

Pengusaha bukanlah profesi idaman, hanya profesi sementara, sambil berharap usahanya ini bisa membuat anaknya besok menjadi _Priyayi._

Karena itu sangatlah penting upaya kita bersama untuk membuat ratio entrepreneur di Indonesia meningkat. Sehingga nantinya tidak ada lagi pemandangan di pagi hari semua berangkat kerja, dan sore semua pulang kerja.

Kita harus bertekad bisa ikut andil membuat perubahan dengan menciptakan entrepreneur entrepreneur baru dengan cara dilatih dan merubah cara berpikirnya.

Dimulai dengan merubah program bawah sadarnya dari bekerja mencari uang menjadi pola pikir entrepreneurship, yaitu bekerja membangun aset, menciptakan karya,menciptakan lapangan kerja dan membuat Legacy buat bangsanya, pungkas Wibi.
[2/8 14.26] Zuhdi#MAJALAHCEOINDONESIA:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *