Wibisono : Posisi Daya Saing Indonesia Turun

Pengamat kebijakan Publik Wibisono,SH,MH

Jakarta, Posisi daya saing Indonesia merosot dari peringkat ke-37 tahun lalu (2018) menjadi peringkat ke-41 tahun ini (2019),bahkan sampai bulan ini (oktober) turun lagi diperingkat 50 dari 138 negara. Kendati demikian pengembangan sektor keuangan dinilai cukup baik, yakni naik tujuh peringkat, Indonesia anjlok 20 peringkat dalam kesehatan dan pendidikan dasar. Secara keseluruhan, skor Indonesia 5,42.

Menurut Pengamat kebijakan Publik Wibisono,SH,MH mengatakan apa ada yang salah dengan kebijakan ekonomi kita?, mengutip Laporan Indeks Daya Saing Global (2017-2018) yang dirilis Forum Ekonomi Dunia (WEF), menyebutkan, teknologi informasi dan komunikasi (TIK) Indonesia ada di peringkat ke-91. Itu karena penetrasi TIK di Indonesia masih sangat rendah.

“Ada empat negara dengan daya saing tertinggi adalah Singapura, Swiss dan Amerika Serikat serta china,” ujar Wibisono menyatakan ke awak media rabo (9/10/2019) sore.

Lanjut Wibi, stimulus moneter saja tidak cukup untuk menjaga pertumbuhan ekonomi. “Tetap harus dikombinasikan dengan reformasi daya saing,” imbuhnya.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Muliaman D Hadad, yang dimintai tanggapan soal daya saing ini, mengatakan, kondisi industri keuangan yang naik dan turun ditentukan indikator pertumbuhan ekonomi.

“Pemerintah telah mengupayakan agar peringkat daya saing Indonesia membaik. Salah satu upayanya melalui penerbitan paket kebijakan ekonomi “,ujarnya

Lanjut Muliaman, penurunan peringkat daya saing Indonesia harus dikaji dalam perspektif utuh. Paket kebijakan ekonomi yang hingga kini sebanyak XIII akan menuai hasilnya pada suatu hari nanti.

Sementara itu Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di sela-sela acara Global Islamic Finance Award mengatakan, persaingan antar bangsa sedang berlangsung dan terus berjalan. Pemerintah tidak akan mengubah strategi dan target penguatan daya saing.

Di sektor perindustrian, kata Airlangga, pemerintah sedang membenahi infrastruktur dan memastikan ketersediaan energi yang dibutuhkan.

Wibisono menambahkan setidaknya terdapat lima tantangan yang masih dihadapi Indonesia di tahun 2019 ini, yaitu stagnannya pertumbuhan ekonomi dan ekspansi kredit, masih kurangnya penguatan industri dasar, inkonsistensi penerapan kebijakan dan penegakan hukum, perlunya peningkatan kompetensi dan keahlian SDM, dan perubahan struktur pemerintahan pada kabinet jokowi jilid dua.

“Menjawab tantangan ini adalah upaya untuk terus meningkatan daya saing Indonesia,” terang wibi.

Pembangunan infrastruktur harus terus dilakukan. Sebab meskipun saat ini posisinya terus mengalami kenaikan, namun hal itu masih belum cukup berpengaruh terhadap bisnis dan ekonomi Indonesia.

Perbaikan infrastruktur juga bisa membuat peringkat daya saing Indonesia secara keseluruhan meningkat. Bahkan tidak menutup kemungkinan akan naik menuju peringkat 20 besar.

“Namun demikian, dampak pembangunan infrastruktur di Indonesia masih belum signifikan berpengaruh terhadap mendorong aktivitas ekonomi dan bisnis,” jelasnya.

Sebagai informasi, penilaian daya saing ini sendiri dilakukan kepada 63 negara untuk di evaluasi peringkat daya saingnya berdasarkan overall ranking dari empat faktor daya saing (competitive factors), yaitu kinerja ekonomi (economic performance), efisiensi pemerintahan (government efficiency), efisiensi bisnis (Business Efficiency), dan Infrastruktur (infrastructure).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *