Wibisono : Rekonsiliasi Sudah Final pada acara Konggres PDIP

Pengamat politik dan militer Wibisono,SH,MH

Jakarta, Kehadiran Presiden Joko Widodo, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dalam pembukaan Kongres V PDIP merupakan puncak rekonsiliasi, “Dalam pidatonya Ketum PDIP Megawati sudah sangat jelas tentang bagi bagi kursi kabinet, PDIP meminta jatah menteri Paling banyak karena sebagai pemenang Pemilu 2019”, ujar Pengamat politik dan Militer Wibisono menyatakan ke awak media di jakarta (9/8/2019).

Menurut wibisono ketiga tokoh tersebut memberikan teladan dan keteduhan kepada seluruh anak bangsa, walaupun masih ada suara suara sumbang di sekitar pendukung masing masing.

Sebelumnya, Jokowi dan Prabowo yang bersaing di Pilpres 2019 telah bertemu di moda raya terpadu (MRT). Kemudian disusul pertemuan Megawati dan Prabowo di kediaman Presiden Ke-5 RI itu di kediaman Mega Jl. Teuku Umar Jakarta.

Kini, di pembukaan Kongres V PDI Perjuangan ketiganya bertemu secara bersamaan. Selain itu, Wapres Jusuf Kalla dan Wapres terpilih KH Ma’ruf Amin juga terlihat akrab di deretan kursi undangan paling depan,dihadiri juga para ketua partai Koalisi seperti surya paloh,Airlangga Hartarto,osman sapta dalam pembukaan kongres di Inna Grand Bali Beach Hotel Sanur, Denpasar.

Peristiwa ini merupakan cerminan dari para pendiri republik pada masa awal kemerdekaan, meskipun berbeda haluan politik dan berseberangan pendapat tetap memperlihatkan persahabatan yang hangat.

Suasana pembukaan kongres memang berlangsung dengan penuh kegembiraan dan persahabatan. Bahkan, sebelumnya Megawati meminta kader PDIP untuk menyambut Prabowo dengan meriah.

“Dalam pidatonya Megawati berupaya membawa pemilu pada esensi sesungguhnya yakni untuk memperkokoh Persatuan dan kesatuan, tadi terlihat betul (zona friendly) penuh persahabatan, dan tidak lagi tampak (enimity) permusuhan,”,ujar Wibisono yang juga Pembina LPKAN (Lembaga Pangawas Kinerja Aparatur Negara) ini.

Bahkan, Megawati mengingatkan pesan Bung Karno pada 1954 menjelang Pemilu 1955 agar pesta demokrasi jangan sampai menimbulkan korban.

Rekonsiliasi tersebut, wibi menegaskan tidak niscaya merupakan rekonsiliasi ideologis, tidak hanya rekonsiliasi politik tapi demi kepentingan bangsa yang lebih besar.

Saya juga lihat sebagai upaya rekonsiliasi sosial, bukan rekonsiliasi politik semata yang dapat menyelesaikan konflik kepentingan pasca-Pilpres.

“Pada intinya rekonsiliasi adalah bagaimana agar bisa menyelesaikan perbedaan dan konflik kepentingan,” tandas Wibi

Kedua kubu pendukung sebaiknya tidak membawa wacana rekonsiliasi ke ranah politik semata.

“Jadi jangan dibawa ke ranah politis. Pemilu telah usai hindari resistensi atau penolakan. Di sini kedua kubu harus bersikap fair bukan apatis maupun skeptis, yang penting tujuan untuk segera mensejahterakan rakyat terpenuhi, jadi tidak hanya bagi bagi kursi saja”, pungkas wibi
[9/8 09.28] Zuhdi#MAJALAHCEOINDONESIA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *