Wibisono: Waspada!, Krisis Ekonomi semakin nampak Jelas dan Nyata

 

Pengamat Infrastruktur Indonesia dan pembina LPKAN (Lembaga Pengawas Kinerja Aparatur Negara) Wibisono,SH,MH saat di Balaikota Jakarta

 

Jakarta, Perkembangan perekonomian tahun 2019-2020 digambarkan akan datangnya krisis yang akan menghantam seluruh Infrastruktur Ekonomi di Indonesia, baik dari sisi mikro maupun makro akan berada dalam siklus Krisis yang mengkawatirkan,ujar Pengamat Infrastruktur Wibisono,SH,MH Menyatakan ke Media dijakarta senin, (12/8/2019).

Menurutnya, mengutip Release Badan Pusat Statistik (BPS) soal angka pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk kuartal II-2019. Data ini menjadi begitu penting jika mengingat perekonomian Indonesia tumbuh jauh di bawah target pemerintah, pada tiga bulan pertama tahun 2019, Untuk periode kuartal I-2019, BPS mencatat bahwa perekonomian Indonesia tumbuh sebesar 5,07% secara tahunan (year-on-year–YoY), jauh lebih rendah dibandingkan konsensus ekonom sebesar sebesar 5,19% YoY.

Wibi menambahkan Bila pertumbuhan ekonomi pada tiga bulan kedua tahun 2019 kembali berada di bawah ekspektasi para ekonom, tentu saja pertumbuhan ekonomi untuk keseluruhan tahun 2019 hampir bisa dipastikan akan mengkawatirkan, kata Wibi yang juga sebagai pembina LPKAN (Lembaga Pengawas Kinerja Aparatur Negara).

Sementara itu Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menjelaskan, porsi kepemilikan asing pada Surat Berharga Negara (SBN) sudah mencapai lebih dari 40 persen. Hal ini, menurut dia, meningkatkan risiko bagi perekonomian Indonesia.

“Sekali goyang (perekonomian), mereka bisa langsung keluar. Ekonomi kita (bisa) terbanting,” ujar Darmin, Jumat (9/8/2019).

Darmin menambahkan pemerintah akan terus berupaya mengurangi ketergantungan terhadap utang. Namun, hal itu tidak bisa dilakukan dengan cepat. Perlu perencanaan jangka panjang, salah satu cara untuk mengurangi ketergantungan asing pada portofolio surat utang pemerintah, antara lain dengan mendorong inklusi keuangan agar seluruh lapisan masyarakat bersedia mengakses layanan keuangan.

“Tapi tentu tidak bisa kalau hanya sekadar membuka tabungan, inklusi keuanggannya tidak hanya itu tetapi juga produk keuangan lainnya,” jelas dia.

Dari data yang disampaikan Bank Indonesia, Neraca Pembayaran Bank Indonesia menyebut rasio kepemilikan asing terhadap SUN pada kuartal II 2019 mencapai 46,6 persen, naik dibanding kuartal I 2019 yang sebesar 46 persen.

Wibisono menambahkan bahwa kondisi perekonomian dalam tahun ini sangat rendah dan tidak stabil.

Dengan kenaikan BBM dan listrik inflasi meningkat, kenaikan harga barang dan ongkos transportasi, sementara daya beli masyarakat juga akan semakin tertekan dan lemah dengan konsekuensi kehidupan nya lebih berat lagi kedepan. Tidak saja rakyat kecil yang besar juga perlu juga diingat beberapa Industri/perusahaan besar saat ini seperti Grup Dunia Tekstil default (gagal bayar utang). Jababeka menyusul apalagi sekarang dalam kemelut kepemilikan, BUMN besar seperti PLN, Pertamina, Garuda dalam keadaan merugi dengan utang yang juga besar, termasuk bank bank pemerintah faktanya punya beban utang yang tidak kecil, paparnya

Pemerintah Jokowi pada periode kedua ini harus secara matang mengkaji karena implikasi kepada rakyat sangat besar, nekad tanpa perhitungan kemelut ekonomi terjadi, tinggal pilih mana yang lebih gila?.

Semoga saja masih ada sedikit kewarasan. Tentunya banyak jalan ke Roma, tapi harus benar benar waspada, salah perhitungan sedikit saya dampaknya bisa fatal,terutama nafsu dalam membangun Infastruktur, dalam pendanaan harus di cari skema yang lebih aman dari sekarang,” jangan besar pasak daripada tiang”, pungkas Wibi. (Red).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *